<div style='background-color: none transparent;'></div>

Keberagaman Kebersamaan by Jitet Koestana

Keberagaman Kebersamaan by Jitet Koestana
HumOr Edisi: 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84 Januari - Desember 2018 - Tahun ke VII

Dokter dan Sumpah Resep

Monday, April 30, 2012

Jitet Koestana


"BERAPA temperatur saya, Dok?" tanya seorang atlet atletik.
"37 derajat Celcius."
"Berapa rekor dunianya, Dok?"

"SAYA suka kota ini --hawanya sejuk dan sangat menyehatkan. Sepanjang saya tinggal di sini, saya tidak pernah membayar rekening dokter."
"Ya, saya tahu. Kemarin saya bertemu dengan doktermu. Dia berkata begitu juga."

DUA orang pasien rumah sakit jiwa sedang terlibat percakapan seru.
"Kepalaku sakit sekali.
"Apa kamu tahu obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan sakit kepala?"
"Tidak. Apa, sih?"
"Kakakku pernah kena sakit kepala. Lalu aku memberinya segelas obat pencuci mata dan obat penghilang rasa sakit. Kenapa kamu tidak mencobanya?"
"Gila kamu! Aku kan bisa terbunuh."
"Aku tahu. Obat itu jugalah yang membunuh kakakku."

"ANDA bilang, gigi Anda tidak pernah ditambal. Tapi saya menemukan serpihan logam di peralatan bor saya."
"Itu kancing kerah saya, Dok!"

"DOKTER, saya ingin menambalkan gigi. Apa proses penambalannya memerlukan waktu lama, Dok?"
"Tidak, jangan khawatir. Tidak akan lama," kata dokter menenangkan. Setelah dua menit berlalu, dokter berteriak, "Nah, sekarang sudah selesai!"
"Ah, jangan bercanda, Dok?"
"Kenapa?"
"Anda menambal gigi yang salah."

"SAYA belajar menjadi dokter gigi lewat kuliah jarak jauh."
"Menarik, nggak?"
"Ya, sih. Tapi, kadang-kadang membuat saya putus asa. Minggu kemarin misalnya, saya punya pasien yang terkena abscess. Padahal modul pelajaran tentang abscess itu baru akan diberikan bulan September!"

"APA Anda sudah mengambil temperatur?" tanya perawat pada seorang pasien yang tengah dirawat inap.
"Lho, apa ada yang kehilangan?"

SEORANG dokter sedang merawat laki-laki yang sangat kecanduan alkohol. Dia berkata kepada perawat, "Apabila pasien ini mengatakan melihat ular hijau lagi, beri dia obat-obat ini."
Beberapa saat kemudian, dokter kembali lagi namun pasien itu masih tetap mengoceh, dan obat-obatan itu belum diberikan kepadanya.
"Bukankah tadi saya menyuruhmu untuk memberi obat-obat ini bila dia melihat ular hijau lagi?" hardik dokter pada perawat. Dengan kalem, perawat itu menjawab, "Tapi dia tidak melihat ular hijau, Dok. Yang dia lihat itu gajah merah jambu!"

"KENAPA kamu seharian melihat ke bawah?"
"Dokterku berpesan, aku harus 'menjaga' perutku."


"SAYA tidak kembali ke dokter itu lagi. Habis, dia kuno, sih!" protes Roni.
"Kok bisa bilang begitu?" tanya kawannya.
"Dia meletakkan sesuatu di dada saya dan mendengarkan sesuatu dari tubuh saya dengan earphone."
"Itu bukan earphone, tapi stethoscope!" temannya menerangkan dengan sabar.
"Ah, bukankah sekarang orang memakai loudspeaker untuk mengeraskan suara, tapi dia kok masih tetap menggunakan earphone?!" kata Roni makin ngotot.

"DOKTER, hampir setiap hari ayah saya kena flu."
"Apa ayahmu tidak tahu kalau wiski itu baik bagi flu?"
"Itulah sebabnya ia tak pernah berhenti minum wiski."
                                            
"SUDAH satu jam Anda berada di tempat ini," kata psikiater pada pasien barunya, "Tapi ada satu hal yang penting yang harus saya sampaikan sebelum pertemuan kita berikutnya. Berhentilah merokok."
"Apa itu bisa membantu saya?" tanya si pasien.
"Tidak, tapi membantu saya. Anda sudah membuat lima lubang di taplak meja saya."

"DOKTER, saya punya problem yang benar-benar berat. Tolong carikan jalan keluarnya, Dok!"
"Tentu saja," jawab dokter, "Tadi Anda masuk lewat mana?"

"APAKAH suami Anda memperlakukan Anda dengan baik selama Anda dirawat?" tanya dokter pada pasiennya.
"Tentu saja, Dok. Dulunya dia malah lebih mirip tetangga daripada seorang suami."

"KENAPA jari Anda ini?" tanya dokter melihat pasiennya datang dengan jari penuh darah.
"Saya memukul jari yang salah, Dok."

"KAKAK laki-lakiku sakit dan dia pergi ke dokter."
"Apa sekarang ia sudah sehat?"
"Tidak juga. Lengannya malah patah."
"Gimana bisa begitu?"
"Dokter memberinya resep dan mengatakan, apa pun yang terjadi dia harus mengikuti resep. Ternyata resep itu terbang dari jendela karena tertiup angin."
"Lalu, kenapa kakinya bisa patah?"
"Dia jatuh dari jendela karena mencoba mengikuti resep."

"ISTRI Denny sakit. Dokter bilang, istrinya butuh udara pegunungan yang segar."
"Lalu ia mengajak istrinya ke pegunungan?"
"Tidak. Ia tinggal di rumah setiap malam dan mengipasi istrinya dengan lukisan yang bergambar pegunungan."

"DOKTER, keluarga besar saya mungkin satu-satunya keluarga yang paling banyak anggota keluarganya meninggal karena gangguan pada leher."
"Ya, digantung mungkin."

"APA dokter sudah mengambil temperaturmu?"
"Nggak tahu. Sejauh ini yang hilang cuma jam tanganku."

Continue Reading | comments

Model 2014

ptc-in

Continue Reading | comments

Mengemis dan Kesantunan

ptc-in

Continue Reading | comments

Mengemis Keadilan by Djoko Susilo


Continue Reading | comments

Joke Ja, Jujug Saja

Jitet Koestana


SEORANG eksportir menutup asuransi untuk barang-barangnya yang dikapalkannya ke Amerika. Sambil menandatangani polis asuransi, ia bertanya pada petugas asuransi.
"Bila seandainya barang-barang ini terbakar di gudang pelabuhan sebelum dikapalkan, saya dapat penggantian berapa?"
"Lima tahun penjara saja," jawab si petugas asuransi dengan tenang.

SEORANG Ketua RW diadili dengan tuduhan telah bersikap tidak sopan dan berani melawan petugas.
"Petugas...? Siapa petugas?" seru Pak RW dengan marah, "Dia itu kan Ahmad, warga saya!"

DALAM rangka perang terhadap minuman keras, seorang penimbun dan pengedar minuman keras digelandang ke meja hijau. Ia dihadapkan ke pengadilan berikut beberapa botol minuman keras sebagai barang bukti.
Untuk memeriksa apakah benar botol-botol itu berisi minuman keras yang terlarang, jaksa meninggalkan ruangan sidang. Ketika dia sudah masuk lagi, segera hakim melanjutkan persidangan.
"Bagaimana, Pak Jaksa, hasil pemeriksaan Anda?"
Jaksa langsung menjawab, "Pak Hakim, kami memerlukan beberapa botol barang bukti lagi!"


SEORANG laki-laki yang didakwa telah membunuh istrinya karena main serong dengan laki-laki lain, dibawa ke persidangan.
"Saudara Terdakwa, harap Anda jelaskan, mengapa Anda membunuh istri Anda dan bukannya membunuh laki-laki yang mengencani istri Anda?"
Dengan muka bersinar tanpa merasa berdosa sedikit pun, laki-laki itu menjawab dengan suara tenang, "Pak Hakim, menurut saya, sangat bijaksana membunuh wanita satu kali daripada membunuh seorang laki-laki setiap minggu!"


HAKIM menanyai seorang wanita yang telah sampai hati memukul suaminya dengan kursi.
"Mengapa Anda memukul suami Anda dengan kursi dan bukannya dengan meja?"
"Dengan meja? Wah... meja itu kan berat, Pak. Mana kuat saya mengangkatnya!"


SEORANG pelaut menangkap seorang pencopet dan menyerahkannya ke polisi.
"Saya mengaku bersalah, Pak. Saya mencopet dompetnya," si pencopet mengakui perbuatannya. "Hukumlah saya, Pak. Selain itu, saya mengajukan tuntutan untuk menceraikan istri saya."
"Lho, kenapa Anda menceraikan istri Anda?"
"Begini, Pak. Ketika saya buka dompet yang saya copet itu, ternyata di dalamnya ada foto-foto istri saya dalam 7 pose."


ISTRI yang ditinggal suami menuntut cerai melalui pengadilan.
"Apa alasan Anda minta cerai?"
"Suami saya telah meninggalkan saya selama 11 tahun."
"Sudah berapa lama Anda menikah?"
"Dua puluh tiga hari, Pak."


"ANDA didakwa telah memasuki pasar swalayan dan mengutil satu pak silet. Anda mengakui perbuatan itu?" tanya hakim kepada pesakitan.
"Benar, Pak Hakim. Saya mohon maaf, saya lakukan itu dalam keadaan fisik saya masih lemah setelah sakit berbulan-bulan."
"Saya kira, kalau Anda dalam keadaan sehat, Anda akan mampu merampok bank!"
"Betul juga, Pak Hakim. Memang itulah kebiasaan saya..."


"ANDA telah melakukan pencurian di rumah Nyonya Ani enam kali dalam satu minggu. Anda sudah keterlaluan sekali."
"Memang, Pak Hakim. Tetapi memang di kompleks perumahan itu, baru rumah Nyonya Ani itulah yang berisi dan dihuni."

                                                          
DOKTER Simon dan istrinya sedang berjalan-jalan di pertokoan ketika seorang wanita dengan busana mini ketat dan dandanan seronok melambai kepadanya.
"Siapa dia?" tanya istrinya curiga.
"Oh, itu. Dia adalah seseorang yang saya kenal dalam hubungan profesional."
Istrinya segera menukas, "Profesimu atau profesinya?"


"APA perbedaan pengemis dan dokter gigi?"
"Yang satu hidupnya dari tangan ke mulut, yang lain dari mulut ke tangan."


"ONGKOS cabut gigi Anda Rp60 ribu," kata drg Anna pada pasiennya.
"Masa? Saya pikir ongkosnya cuma Rp20 ribu saja."
"Normalnya memang segitu," jelas Bu Dokter, "Tapi teriakan Anda membuat dua pasien saya lari."


PAK Tua Somad datang ke dokter pribadinya.
"Gimana rasanya berumur 90 tahun?" tanya dokter kepada pasien setianya itu.
"Nggak semuanya buruklah. Saya menjalaninya sebagai suatu ritual."
"Tolong ceritakan, Pak. Mungkin ada sesuatu yang nanti bisa saya sampaikan kepada pasien lain."
"Ketika saya bangun pagi, pembantu memberi saya segelas kopi kental. Saya minum sambil baca surat kabar."
"Sesudah itu?"
"Sesudah itu," lanjut Pak Tua Somad, "Jika nama saya tidak ada di iklan duka cita, saya bangun."


KARENA obat-obatan masih juga tidak membantu penyakit imsomnia-nya, dokter menyuruh Samuel untuk menghitung dulu sebelum tidur. Hari berikutnya ia menelepon Samuel.
"Apakah Anda sudah melakukan apa yang saya sarankan?"
"Tentu saja."
"Apa yang terjadi?"
"Saya menghitung sampai hitungan ke dua puluh lima ribu."
"Lantas, Anda bisa tertidur?"
"Tidak juga," jawab Samuel, "Soalnya, tepat di hitungan itu adalah waktunya untuk bangun."


Continue Reading | comments

Momentum Recehan


Prie GS
Ketika Hollywood menghentikan peredaran filmnya ke Indonesia, saya sungguh gembira. Saya membayangkan sebuah momentum. Itulah saatnya film-film kita mengambil alih posisi mereka. Tetapi ketika sepeningal  mereka, film kita sebagian besar hanya berisi kuntilanak, pocong dan suster ngesot, jelas sudah, bahwa momentum itu hilang. Film kita belum memiliki modal kebudayaan untuk menyambut momentum. Kesanggupan kita hanyalah sekedar menerima momentum recehannya saja. Jika ada mall dibangun kita bukan bagian dari konsorsium, tetapi sekadar penyedia layanan satpam dan tukang parkirnya saja. Jelas itu bukan momentum, tetapi sekadar buih dari  ombak  besar.
          Tetapi kegembiraan itu belum  saya cabut. Karena persoalan Indonesia pasti  bukan cuma film. Saya masih mencoba gembira karena inilah saatnya berhenti menonton film Hollywowd. Saya sendiri penggemar film dan saya paham mutu mereka. Saya hampir tidak bisa tidak  menonton film-film yang disutradarai Francis Coppolla. Saya juga penganggum James Cameron yang jenius itu. Saking percaya dengan mutu mereka, saat menonton film cukup dengan melihat siapa sutradaranya, bukan bintangnya. Siapapun pemainnya akan menjadi bintang di tangan mereka. Di Indonesia, Eros Djaros memiliki kemampuan ini. Sayang membuat film hanya selingan baginya.
          Menonton film-film yang bagus semacam itu sangat berbahaya untuk kita. Dalam hal apa? Dalam hal waktu. Ia membuat kita terancam cuma akan menghabiskan waktu yang berharga ini cuma untuk menonton mereka. Cuma penonton. Saking  asyiknya,  saking kagumnya, sampai kita lupa menggeser kedudukan agar menjadi pihak yang ditonton. Asyik, menjadi tua, lalu mati, tetap saja sebagai penonton. Jika urut-urutan itu yang benar  terjadi, jika sebuah generasi  tumbuh, tua dan mati hanya dengan kasta penonton, seluruh bangsa  itu akan menjadi bangsa  penonton. Ini pasti berbahaya. Maka hanya dengan berhenti menonton mereka, saya bayangkan akan menjadi momentum untuk membalik kesadaran ini. Apapun jenis  kerugian bangsa ini rasanya  boleh dianggap kecil saja jika bandingannya adalah kehilangan waktu. Dan seluruh waktu kita selama ini hanya habis diperdaya cuma untuk menonton saja.
          Lalu waktu yang telah mereka rebut itu, kita rebut kembali. Kita jadi punya waktu untuk memartabatkan seluruh urusan di negeri ini. Soal film itu bisa diurus  kemudian dan itu menjadi soal mudah jika kita telah  sanggup mengurus  politik, mengurus petani, mengurus lahan-lahan tidur yang melimpah ini. Bagaimana mungkin ada pengangguran yang banyak bisa berdampingan dengan lahan tidur yang banyak. Bagaimana mungkin kawasan dengan 72 persen lautan bisa mengimpor garam. Bagaimana mungkin beras dan buah-buahan dipenuhi produk Thailand, negara yang lebih kecil dan setiap kali bongkar pasang pemerintahan. Mungkin saja, karena seluruh kemungkinannya memang kita buka. Selama ini ada jenis kehilangan yang amat besar dari bangsa Indonesia ini yakni waktu untuk memartabatkan dirinya sendiri.
          Kini, momentum itu ternyata, hilang lagi. Karena film-film Hollywood akan masuk lagi dan kita akan menonton l;agi. Sebuah tontonan yang makin hari makin memukau. Kesenian yang dikemas dengan integritas serorang profesional dan sangat layak dikagumi. Sangat layak mengagumi Harry Potter yang cuma dongeng tetapi sihirnya benar-benar bekerja hingga ke dunia nyata. Persoalannya, selalu  cuma menjadi penonton itulah peran kita.
Continue Reading | comments

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger