<div style='background-color: none transparent;'></div>
Home » » Sang Pendobrak Fenomena

Sang Pendobrak Fenomena

Goen "Wayang Mbeling"

Oleh Darminto M Sudarmo
Darminto M Sudarmo



Kartunis Goen (Goenawan Pranyoto) pertama saya kenal di kisaran tahun 1982-an. Saat itu, petang hari, bersamaan dengan pameran kartun yang sedang diselenggarakan di Balai Wartawan, GOR Semarang. Yehana SR, pegiat kartun di Semarang yang memperkenalkan kami. Goen ditemani istrinya, Endang Hima. Pria kalem dan pemalu itu terlihat sangat segar, gagah dan klimis. Bahkan mereka berdua masih tampak seperti pasangan pengantin baru. 

Jauh waktu sebelum perkenalan itu saya telah melihat karya-karya kartun Goen yang dimuat di Minggu Ini (Suara Merdeka edisi Minggu). Melihat karkakter goresannya yang khas dan beda dari kartunis manapun, saya mencoba mencermati perkembangannya dari waktu ke waktu. Fakta yang kemudian saya dapati adalah sesuatu yang mengagetkan. Ternyata sangat banyak kartunis pemula, termasuk Jitet Koestana (pada awal belajarnya), yang terpengaruh (baca: terinspirasi) gaya goresan maupun sosok penokohan ala Goen.
Seperti bom virus fenomena, pengaruh gaya kartun Goen nyaris menjadi pembangkit semangat bagi para kartunis muda yang belum menemukan stilisasi dan karakter dirinya. Ada yang mempertanyakan, bukankah gejala itu bisa jadi hanya eforia dan kelatahan belaka? Dalam proses studi, gejala demikian lazim saja terjadi; bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, karena pada perkembangan berikutnya para kartunis muda itu toh akhirnya menemukan jalannya sendiri. Menemukan kearifannya sendiri.
Salah satu contoh ilustrasi Wayang Mbeling Goen.


Plesetan Verbal
Tahap-tahap berikutnya, saya melihat Goen makin mendapatkan tempat di hati penggemarnya ketika ia mulai menggarap ilustrasi “Wayang Mbeling” di Minggu Ini maupun majalah MOP. Tak terkecuali cerita rakyat atau legenda yang disentuh secara nakal dan karikatural di majalah yang sama. Kekuatan yang menonjol dari Goen bukan semata karena kekuatan teknis menggambarnya yang unik dan menggelitik, tetapi juga lelucon-lelucon verbalnya (teks) yang kaya plesetan dan konteks dengan nuansa budaya masyarakat  Semarang pada zamannya. Ia, misalnya, acap “mengeksplotasi” kata-kata: canggih, akurat, greget secara berulang-ulang namun tetap tune in ketika itu diproyeksikan dengan konteks cerita dan ilustrasi yang ada. Plesetan ala Goen yang lain, misalnya dia menggambarkan seorang murid (dengan seragam kedodoran) yang sedang diceramahi gurunya dengan ucapan, “Bengtul-bengtul Pak Gulu…”.

Di rubrik Wayang Mbeling, Minggu Ini, dua tokoh personafikasi yang paling sering muncul adalah pria gendut botak berkumis tebal, berkaca mata hitam satu bak bajak laut (karikatur dirinya sendiri) dan pria dengan dagu terpiuh ekstrem, dada kerempeng, berkumis tipis bak Patih Sengkuni (karikatur Yehana SR). Kedua tokoh ini yang menjadi pengacau logika tokoh inti (lakon) yang termuat dalam cerita wayang mbeling edisi bersangkutan.  Sesekali muncul tokoh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, namun itu disesuaikan dengan relevansi cerita yang ada.
 
Menggambar dengan Tangan Kiri
Sesekali Goen juga mendapat tugas membuat ilustrasi Cerpen di Minggu Ini. Ekspresinya bermacam-macam. Kadang ia menggambar secara realis, abstrak, surealis atau mix-media (salah satu cerpen saya pernah diberi ilustrasi foto saya yang di-foto copy, lalu digabung dengan coretan-coretan tertentu). Saat lain, kalau perasaan jenuh sedang merasuki dirinya, ia lalu menggambar total ilustrasi dengan tangan kiri. Maka efek bentuk dan garis yang muncul dalam gambar itu sangat berbeda dari karakter Goen umumnya. Ia memberi inisial gambar itu dengan nama IAN (anak sulungnya yang saat itu masih kecil).

Goen bukan tipe kartunis penggambar cepat. Ia sangat intens dan mengalir sesuai suasana hati yang dirasakannya. Saat membuat skets misalnya, kadang ia merasa perlu berhenti sebentar. Merokok atau minum kopi. Atau jalan-jalan keluar rumah beberapa saat. Kalau di sekitarnya kebetulan ada kawan atau orang lain yang menemani, maka waktu jeda itu ia gunakan untuk ngobrol ala kadar atau guyon sejenak. Bahkan setelah gambar jadi pun, untuk finalisasi teks-nya ia perlu membuat garis pensil terlebih dulu agar huruf-huruf atau kata yang tertuang di ilustrasi terlihat rapi dan nyeni. Untuk tebal tipisnya huruf, ia juga perlu melakukan tindasan tinta (spidol) berkali-kali.

Karya-karya Goen terpenting dan puncak – baik ilustrasi Wayang Mbeling maupun komik kartunal lainnya -- banyak terlahir ketika ia dan keluarga menghuni rumahnya di Tanah Mas, Semarang. Selain pagi hari rajin masuk kantor (PT Masscom Graphy, SUARA MERDEKA GROUP), malam harinya Goen nyaris tak pernah melewatkan waktu untuk membuat gambar. Maka ketika akhir tahun 2006 Goen dan kartunis Koesnan Hoesie berkesempatan singgah ke rumah saya di Meteseh, Tembalang, saya melihat artikulasi bicara Goen sudah agak samar dan cara berjalannya agak lain, salah satu kakinya diseret, saya mulai mencemaskan kesehatannya itu. Terlebih-lebih, mencemaskan karya-karya barunya yang mungkin tak maksimal lagi. Ternyata waktu kemudian mencatat, tahun-tahun sesudahnya Goen bahkan ditaklukkan oleh penyakit stroke yang menderanya, sehingga ia tidak dapat berkarya sama sekali hingga ajal menjemputnya pada 13 Januari 2014.

Penghargaan Empu Kartun
Sebenarnya peristiwa penting yang diselenggarakan oleh Semarang Art Festival 2010 pada Sabtu (23 Oktober 2010) malam dengan penganugerahan gelar Empu dan Panglima Kartun Indonesia telah memberikan indikasi positif bagi pemulihan semangat Goen. Ia mendapatkan penghargaan sebagai Empu Kartun bersama dengan tiga gelar Panglima Kartun yang diberikan kepada GM Sudarta ”Oom Pasikom”, Pramono R. Pramoedjo ”Si Keong”, dan Dwi Koendoro ”Panji Koming”.  Namun apa daya, rupanya takdir berkehendak lain.

Goen boleh pergi meninggalkan kita semua, tetapi jejak “emas” yang ditinggalkannya tak akan pernah dapat dilupakan. Di Semarang dan sekitarnya, bahkan mungkin Jawa Tengah, kartun Goen telah menancapkan eksistensi khas yang tak tergantikan oleh kartunis lain. Bagi saya, ia justru sosok pendobrak fenoma dalam dunia perkartunan Indonesia yang membumi. Semangat lokalnya justru memperkuat jati diri kebangsaannya. Seluruh karyanya, nyaris tidak tergiur, tergoda oleh pengaruh dan kekenesan gaya kartun asing (barat).

Pada 1996-an, kartunis Non-O S Purwono, saya, Kaki Numa (direktur Japan Foundation Asia Tenggara) dan Prof Shimizu (sejarawan kartun Jepang) duduk semeja di kantor Japan Foundation Jakarta. Dalam rangka mencari kartunis potensial Semarang yang layak diberangkatkan ke Jepang, saya dimintai nama-nama yang sesuai untuk itu. Saya hanya memberikan tiga nama: Goenawan Pranyoto, Koesnan Hoesie dan Prie GS. Satu persatu dicermati oleh Kaki Numa. Ternyata kriteria kartunis yang dapat diberangkatkan ke Jepang adalah kartunis yang tugas sehari-harinya menggambar political cartoon atau editorial cartoon di media bersangkutan. Saya agak berdebat beberapa saat dan meyakinkan Kaki Numa bahwa Goenawan Pranyoto secara kompetensi dan senioritas sangat memadai. Kaki Numa dapat memahami itu tetapi tampaknya ia tak dapat melanggar kriteria yang telah ada, sehingga di kemudian hari kartunis Semarang yang diberangkatkan awal adalah Koesnan Hoesie (Harian Sore Wawasan) dan Prie GS (Harian Suara Merdeka) di tahun berikutnya. 

Lingkaran Sahabat
Goen tampaknya tak hirau-hirau amat tentang peluang yang belum memihaknya itu. Ia tetap berkarya tanpa mengurangi kadar keasyikannya. Mengenang Goen kita tak dapat menafikan peran sahabat-sahabat dekatnya seperti Yehana SR, dr Bimo Bayuaji, Odios, Eddy Pokal (almarhum), Prie GS, Imbeng, Koesnan Hoesie dan Handry TM. Dalam atmosfer para sahabat itulah kreativitas Goen terasah dan diasah. Atmosfer yang dipenuhi suasana kejenakaan dan bahkan cengengesan. Tak heran bila dalam masa sakitnya, Goen kadang terlihat sering tertawa sendiri mengenang masa-masa penuh kegembiraan itu. Akhirnya, selamat jalan Mas Goen, semoga kau berbahagia di tempatmu yang baru!
Darminto M Sudarmo, sahabat dan kawan bergaul Goenawan Pranyoto.
 



Lelucon-lelucon Sekitar Goen



Gambar Pertama Goen di Minggu Ini
Pada awalnya rubrik Wayang Mbeling, Minggu Ini, diilustratori oleh Awang Arifin. Ketika Awang mendapat tugas menempuh pendidikan di Bandung, rubrik itu membutuhkan illustrator pengganti sementara. Dokter Bimo Bayuaji (waktu itu masih Drs Med, mewakili Suara Merdeka) meminta saran ke Yehana SR. Yeha mengusulkan nama Goen, karena ia telah melihat gaya ilustrasi Goen unik dan menggelitik. 

Setelah gambar ilustrasi pertama Goen dimuat di Minggu Ini, Goen tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Ke mana-mana ia membawa koran Minggu Ini. Tak terkecuali ketika masuk kamar kecil, ia menghabiskan waktu berlama-lama di sana hanya sekadar untuk menatap nikmat gambar pertamanya yang dimuat di koran tersebut.

Strategi Kamso ala Goen
Setelah gambar Goen dimuat beberapa kali di rubrik Wayang Mbeling, makin yakinlah Goen akan kemampuannya menggambar. Untuk memantabkan posisinya itu, pria yang pernah mendapatkan pendidikan akademi perhotelan ini menyadari pentingnya suatu posisi guna dijadikan modal sosial di masyarakat. Maka suatu hari ia mengajak Yehana SR untuk membicarakan strategi khusus dalam  me-maintenance PR (public relation) masing-masing individu. 

Caranya? Sederhana saja. Kalau Yeha ketemu teman-temannya, ia berkewajiban memperkenalkan, “Ini lho Goen, kartunis Wayang Mbeling Minggu Ini.” Begitu juga ketika Goen ketemu teman-teman atau relasinya ia harus mengatakan, “Ini lho Yehana SR, ketua umum SECAC!”

Wajah Yeha Bertubuh Kirik
Secara bergilir, teman-teman dekat Goen dijadikan obyek sebagai “bintang tamu” karikatur tokoh di ilustrasi Wayang Mbeling.  Memang yang paling sering dikerjani Goen adalah Yeha; tetapi teman-teman lain juga jadi sasaran, mereka antara lain: Bimo Bayuaji, Awang Arifin, Jono, Hari Boestaman, dan lain-lain. 

Salah satu karikatur bintang tamu yang membuat Yeha jengkel sekali adalah ketika wajahnya digambar karikatural seperti biasanya, namun kali ini diberi tubuh seekor kirik, di dekatnya tergeletak botol minuman keras. Ketika Yeha menyampaikan protes itu ke Goen, Goen hanya merespon dengan senyum-senyum kecut.

Lebih Baik Disuruh Berantem daripada Disuruh Pidato
S    Suatu hari, di Pusponjolo Tengah, Semarang, pada 1982, berkumpul anak-anak muda dan beberapa pria dewasa dengan wajah sumringah dan penuh harapan. Di antara pria dewasa itu terlihat tokoh-tokoh penting seperti Jaya Suprana, dr. Soewondo Psi, dan Hari Boestaman. Ruang tamu yang diberi gelaran tikar dan lumayan luas itu penuh sesak. Mereka bersepakat akan mendirikan perkumpulan kartunis yang di kemudian hari dikenal dengan nama Secac, dengan kepanjangan Semarang Cartoons Club. Terpilih secara aklamasi: Yehana SR sebagai ketua umum dan Goenawan Pranyoto sebagai ketua teknis.

Tiba giliran ketua umum dan ketua teknis untuk memberikan sambutan. Kata sambutan ini yang ternyata membuat stress baik bagi Yehana maupun Goen. Keduanya memang senang ngobrol dan bercanda dengan orang-orang, namun kalau berkaitan dengan sambutan resmi dan formal di hadapan banyak orang, mereka mengaku langsung panik, nervous, bahkan macet komunikasi. Maka di belakang rumah,  mereka berdua mencoba cari solusi dengan meminum bir terlebih dulu sambil mengerutuk, “Lebih baik disuruh berantem daripada pidato!” ujar Goen dengan ekspresi wajah sedikit agak kemerahan. Langsung disetujui Yehana, “Betttt.…bettttulll!” dengan mulut masih tersisa buih-buih bir.

Ngobrol Santai dengan Mobil
2.    Goen sejak awal memang dikenal pendiam dan pemalu. Terutama kalau berhadapan dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Meskipun demikian, dalam hal-hal tertentu, bahkan kepada rekan-rekan dekatnya, tak selalu ia berkomunikasi dengan kata-kata. Mending kalau ia misalnya mengoreksi orang yang sedang pidato atau presentasi dengan berbisik di kuping teman yang duduk di dekatnya, hal yang paling sering dilakukannya adalah dengan tindakan langsung. Dengan bahasa akting, istilah filmnya. 

Suatu hari, di tengah lapangan, Goen mengendarai mobil open pick up-nya sendirian. Ia kemudian memasukkan perseneling ke gigi satu. Mobil berjalan smooth. Stir dilepas, pelan-pelan ia keluar dari mobil dan berjalan persis di sisi mobil yang berjalan pelan itu. Rekan-rekan yang melihat tidak tahu apa yang dilakukan Goen. Mereka hanya dapat bertanya-tanya dalam hati. Ternyata Goen kemudian menyalakan sebatang rokok, lalu ia seolah bersikap akrab dengan mobil itu dan mengajaknya ngobrol sambil berjalan pelan, layaknya kepada sesama sahabat kental.  Tentu saja semua yang melihat tak dapat menahan tawa oleh ulah Goen yang nyentrik itu.
Share this article :

4 comments:

Unknown said...

Atas nama keluarga saya menyampaikan terima kasih kepada Bp. Darminto M Sudarmo telah menulis di Harian SM minggu & posting di website. & Saya berharap bapak bisa membantu saya untuk melengkapi tentang biografi Empu Kartunis.

Unknown said...

Atas nama keluarga saya menyampaikan terima kasih kepada Bp.Darminto M Sudarmo yang telah menulis di harian SM minggu & posting di website. & Saya berharap bapak bisa membantu saya untuk melengkapi biografi Seorang Empu Kartunis. Semoga bapak berkenaan membantu saya, terima kasih.

Admin said...

Sama-sama Mbak Octaviana Dwi, terimakasih juga atas feedbacknya. O ya kalau kami tidak silap, tulisan tentang Lelucon-lelucon tentang Goenawan Pranyoto, pada edisi terbaru ini (Minggu keempat Januari 2014) juga dimuat di Cempaka Minggu Ini. Mohon dicek, apakah betul?

Bambang Dono Kuncoro said...

Pernah Mas Goen bertanya pada saya (adiknya): "Kae deloken bakul bakso kae. Nek mbok takoni, apa tujuanmu dodolan bakso. Mesti jawabane buat cari makan. Lha kok deweke ora mangan bakso wae, yo. Kuwi kan termasuk yo makanan."

Post a Comment

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger