<div style='background-color: none transparent;'></div>

HumOr Edisi 35 Tahun Ketiga, November 2014

HumOr Edisi 35 Tahun Ketiga, November  2014
Misteri Subsidi BBM - Kartun GM Sudarta - Kompas

Repotnya Belajar Bahasa Jawa

Friday, November 21, 2014

Bahan dari Memrise/WDP

Continue Reading | comments

BBM = Boleh Buka...Mas!

Kartun GM Sudarta - Kompas

Jokes Umi Sakdiyah

Arti BBM

"Kenapa sih kalau ada kenaikan BBM orang Indonesia pasti heboh banget?" ujar Paijo heran.

"Ya, BBM mempunyai banyak arti bagi kita semua"

"Maksudnya?"

"Bagi penguasa, BBM itu artinya Bahan-Bahan Milep; bagi ibu rumah tangga artinya Barang-Barang Mahal, bagi anggota dewan artinya Boleh Banting Meja, bagi masyarakat di pedalaman artinya Bahan-Bakar Mewah, untuk politisi artinya Bagi-Bagi Momisi, bagi orang miskin artinya Boro-boro Bisa Makan enak, sedang untuk kamu sebagai pengangguran artinya Bar Bobok Maem."

"Lha kalau untuk pengantin baru artinya apa?"

"Boleh Buka Mas... " jawab Juki sambil melempar bakiak.


BBM dan Emas


Dalam buku best seller Gara-Gara Indonesia karya historivator Indonesia, Agung Pribadi, disebutkan bahwa Arab Saudi memilih dibayar menggunakan emas oleh Amerika Serikat dalam penjualan minyak bumi, sehingga bargaining powernya tetap tinggi.

Saya heran, kenapa Indonesia tidak bisa bertindak serupa sehingga bargaining powernya kuat terhadap negara lain?

Jawabannya adalah karena, cadangan emas di Indonesia melimpah ruah, melebihi yang dibutuhkan, dari mas Bambang, mas Edy, bahkan sampai mas Joko.


Antri BBM


Semalam, Juki memergoki Paijo yang sedang mengantri BBM subsidi di POM bensin.

"Ngapain kamu naik sepeda sambil bawa-bawa jerigen, Jo?"

"Ya antri bensin lah. Kan tengah malem nanti bakalan naik."

"Lha, kamu kan nggak punya motor atau mobil. Sejak kapan sepeda pake bensin?"

"O, iya ya! Lupa aku!" ujar Paijo cengengesan buru-buru kabur.


Profesor dan Narkoba

"Seorang profesor tertangkap basah menggunakan narkoba bersama dosen dan dua mahasiswi." Juki kaget membaca berita tersebut dan langsung memanggil temannya, Paijo.

"Jo, lihat nih! Jaman udah edan kali ya?"

"Oh... itu sih cuma lagi penelitian aja, Juk!"

"Penelitian gemana?"

"Ya, kan dosen itu lagi nyusun disertasi sik judule: Analisis pengaruh penggunaan narkoba pada guru besar, dosen dan mahasiswi terhadap kompetensi guru besar dan dosen serta prestasi akademik mahasiswi"

"Oh... jadi mereka itu jadi peneliti sekalian responden?"

"Pinter kamu!"


JEK SEPAROW, BAJAK LAUT DARI KALIBAGOR

Jek Separow, bajak laut paling ditakuti dari seluruh lautan di dunia sedang rapat dengan anak buahnya di sebuah Warteg di Kalibagor.

"Dul Wangsa, priben rencana mbajak kapal tanker Pertamina?"

"Kayane si bakalan gagal, Boss! Kapale nggak bisa jalan" lapor Dul Wangsa yang bertugas mempersiapkan perlengkapan.

"Apa????!!! Gemana bisa?" teriak kapten bajak laut itu sambil menggebrak meja.

"Ya, priwe maning, Boss, udah seminggu inyong ngantri solar nggak dapet-dapet.


Singkong di Halaman Belakang

Tadi siang Muhidin iseng memeriksa halaman belakang rumahnya. Suatu hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Biasanya ia sibuk mengurus usahanya sebagai juragan minyak tanah.

Pembantunya melaporkan bahwa tetangga belakang rumahnya baru saja panen singkong. Ia kaget bukan kepalang karena tetangga terdekatnya itu menanam singkong di halaman belakang rumahnya. Dengan geram ia pun melabrak.

"Kenapa halaman belakang rumah saya kamu tanami singkong?" kata Muhidin sambil berkacak pinggang. Tangannya menunjuk-nunjuk muka tetangga belakang rumahnya.

"Lha cik Muhidin yang salah! Kenapa selama ini belakang rumahnya nggak diurus? Daripada ditumbuhin ilalang terus buat sarang ular, mending saya tanami singkong," sahut Tuk Dalang tak mau kalah.

"Giliran tahu saya panen singkong aja ribut!" sungut Tuk Dalang menantang. “Ke mana aja selama ini?”



Continue Reading | comments

Benar-benar Mintilihir

Kartun Jitet Koestana -Kompas


BBM

Simbah Putri Trimo, “Lengo bensin munggah meneh yo Mo?”
Trimo, “Nggih niku mBah, tambah sisah nggih. Mengke sadayane mesti tumut mindak reginipun.”

Simbah Putri, “mBiyen..dek zamanne simbah podo umur-umurane ibumu, duwit limanggelo iso nggo tuku opo wae. Nang toko iso tuku, ruti, coklat, kiju, mentego, trigu, farpum, bedak, lipsetik, sabun mandi, odol, sampo, minyak goreng, gulo. Wak pokoke akeh. Malah simbahmu kakung isih iso entuk rokok senengane sak slop.”

Trimo, “Woo..woo..edyan tenan. Lha kok saged katah sanget nggih mBah;..lha nek sakmeniko dospundi mBah?”

Simbah Putri, “Saiki wis ra iso meneh…wis kangelan. Lha piye..nang endi-endi ono cctv-ne.”



(Wasito Djati Pribadi)


BU SUSI MELAKUKAN PEMECATAN PERTAMA

Saya senang melihat sepak terjang menteri Susi yang membuat saya bangga, seharusnya menteri ya seperti itu. Tandang grayangnya cak-cek, lugas tanpa basa-basi. Ketika diberitakan ia adalah orang pertama yang berhasil menembus daerah bencana Aceh ketika terjadi tsunami, saya mengikuti beritanya dengan penuh minat. Sungguh saya merasa surprise orang Pangandaran ini diangkat menjadi menteri. Saya kemudian membayangkan Susi melakukan pembersihan di kementeriannya, semoga orang yang selama ini menjadi benalu disikat habis, beliau tidak perlu merasa ragu untuk melakukan itu.
Suatu hari, betapa marah menteri Susi melihat seseorang di kementeriannya melakukan korupsi waktu. Ketika pegawai yang lain sibuk membenahi (tak jelas sebenarnya apa yang dibenahi) lelaki itu itu justru hanya diam berdiri bersandar dinding.
Garang Bu Susi memandang, pegawai yang kepergok kaget dan langsung pucat.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Bu Susi.
Keringat pegawai itu langsung terperas.
“Maaf Bu,” jawab orang itu sambil menundukkan kepala.
Sebagaimana disampaikan wartawan yang meliput, Bu Susi terlihat sesak napas.
“Berapa gajimu sebulan?” bentak Bu Susi.
Pegawai itu tidak berani menjawab.
“Bertapa pendapatanmu sebulan?”
Dengan terbata-bata pegawai yang ketahuan korupsi waktu itu mendongak, “Sebulan tiga juta.”
Bu Susi mengangguk-angguk. Wartawan bergerak mendekat, kamera terarah dan menjepret jepret.
Bu Susi yang geram meminta ajudan membuka tas. Bu Susi mengeluarkan segebok uang.
“Kamu saya pecat!” kata Bu Susi garang, napasnya masih tetap mengombak, “meski demikian saya tidak mau disebut menteri kejam. Itu uang untuk masa transisi, lalu urus hak pensiunmu.”
Dengan terbungkuk-bungkuk pegawai bernasib sial itu menerima uang pesangon itu, dengan air mata bercucuran pegawai itu membungkuk memberikan hormat. Lalu melangkah mundur dan berbalik. Di bawah pandangan mata semua orang orang itu ngeloyor sambil bercucuran air mata. Bu Susi bergeming tidak merasa harus iba meski melihat pegawai itu menangis.
Bu Susi melambaikan tangan pada seorang stafnya.
“Siap,” kata staf itu sigap.
“Urus hak pensiun orang itu, serta siapkan surat pemecatannya untuk saya tanda tangani.”
Staf itu terbungkam.
“Kenapa?” tanya Menteri Susi.
“Tetapi Bu?”
“Tetapi kenapa?”
Staf itu menunduk.
“Orang itu bukan pegawai kita, orang itu penjual cendol di seberang jalan.”
 
(Langit Kresna Hariadi)
Continue Reading | comments

Siapa Gila Siapa Waras Urusan Nanti....

Kartun Jitet Koestana - Kompas


Wasito Djati Pribadi
 

(Copy paste tetangga....)

Di satu SMU di Amerika, saat kelas Sejarah, ada seorang siswa baru dari Jepang bernama Suzuki Yamaguchi.

Ibu Guru: Murid2, siapa yang terkenal dengan pernyataan "Kebebasan atau Kematian"?

Sekitar 1 menit suasana kelas hening. Tiba2 Suzuki mengangkat tangannya dan menjawab: Patrick Henry, tahun 1775 di Philadelphia.

Ibu Guru: Bagus sekali Suzuki! Dan siapa yg mengatakan "Negara ini dan Bangsa ini tidak akan pernah mati?"

Suasana hening lagi. Suzuki kembali mengangkat tangannya sambil menjawab: Abraham Lincoln, tahun 1863 di Washington.

Ibu Guru memandang murid2nya: Kenapa kalian ini? Suzuki orang Jepang, tetapi tahu banyak sejarah Amerika daripada kalian.

Semua murid terdiam. Tiba2 dari deretan bangku belakang ada yg berteriak: Pergi kamu Jepang sialan!

Ibu Guru: Hey siapa yang mengatakan itu?

Kembali Suzuki langsung mengangkat tangannya: Jendral Mc Arthur tahun 1942 di Guadalacanal.

Suasana kelas semakin ramai dan gaduh, tiba-tiba ada yang teriak: Suzuki sialan brengsek!

Bu Guru: Hey siapa yang mengatakan itu?

Eeh Suzuki malahan menjawab: Valentino Rossi di Rio de Janeiro, Brazil, pada Motor Grand Prix tahun 2002.

Ibu Guru semakin gusar dan berkata: Sekali lagi kalian berbicara akan ku gantung kau di Monas!

Suzuki menjawab: Anas Urbaningrum tahun 2012, pada kasus Hambalang di Indonesia!

Ibu guru mengelus dada sambil geleng2 kepala: Waduuhh saya prihatin.

Suzuki berteriak: SBY, Presiden Indonesia ke-6!

Ibu Guru semakin stres lalu tepok jidat: Wis aku ra popo....

Suzuki lagi-lagi berdiri dan berteriak: Jokowi, Presiden Indonesia terpilih 2014!

Gubrak! Bu Guru pingsan. Stlh siuman dr pingsan Ibu Guru bilang: Saya merasa mual mau muntah.

Lagi2 Suzuki menjawab: Nurul Arifin kpd Tempo edisi pekan ini karena nyinyir ga suka liat menteri lompat pagar....
Continue Reading | comments

Mengapa Terjadi Kemerosotan Lawak di Indonesia?


Oleh Odios Arminto

Tak mudah menjawab pertanyaan di atas. Yang dapat dilakukan hanya adanya rasa kesal dan gemas karena kemerosotan yang ada begitu signifikan dan tak terbantahkan. Bagi anda yang pernah menjadi saksi bagaimana dunia lawak di tahun akhir 1970-an hingga 1990-an, dapat merasakan betul perbedaan yang ada.

Antara akhir tahun 1970-an hingga ujung tahun 1985-an, di Jakarta, di bawah bendera Lembaga Humor Indonesia (LHI) pimpinan Arwah Setiawan, dunia lawak (bahkan event seni humor secara umum) begitu bergairah dan tumbuh subur. Berbagai festival lawak dan seni humor (termasuk lomba kartun, musik, tari, pidato dan lain-lain) begitu membahana dan menyedot perhatian masyarakat secara nasional. Dari lomba musik humor itulah, salah satunya, LHI menjadi “ibu momentum” lahirnya musikus kelas legenda, Iwan Fals.
Antara 1985 hingga 1988-an, di Semarang, Jawa Tengah, di bawah bendera Pertamor (Perhimpunan Pencinta Humor) pimpinan Jaya Suprana, kegiatan seperti Seminar Humor, Lomba Merayu, Lomba Siul, Lomba Tertawa, bahkan Festival dan Lomba Kartun Internasional (Candalaga Mancanegara) terjadi secara susul-menyusul tanpa henti. Khusus tentang lomba kartun internasional (1987/1988 – pertama kali di tingkat Asia Tenggara), yang semula diperkirakan diikuti delapan atau sembilan Negara, ternyata di luar dugaan yang terjadi justru diikuti oleh 29 negara, termasuk Indonesia. Dengan jumlah karya partisipan yang masuk lebih dari 11 ribu kartun. Sebuah potensi yang menggembirakan.

Kembali ke kemerosotan seni lawak Indonesia dalam tiga dekade ini, tercatat pertunjukan lawak serius dan kolosal, terakhir dijumpai pada tahun 1989: Kolaborasi antara Teater Koma dan Bagito Gorup. Pergelaran hampir lima jam itu dilakukan di Gelora Senayan (sekarang: Gelora Bung Karno). Seluruh tempat duduk penuh. Seluruh penonton menyimak seluruh pertunjukan dengan suka cita hingga menit terakhir.

Festival lawak versi LHI, yang sangat layak dicatat adalah bertemunya grup-grup lawak kelas bangkotan yang memuat gagasan-gagasan bergizi, tampilan genuine, dan kelucuan maksimal. Salah satu grup lawak peserta yang membuat beberapa grup lawak di Jakarta “gemetaran” berasal dari Jawa Timur. Namanya Kuartet S dari Malang. Festival lawak bergengsi ini dalam catatan saya bukan lagi sekadar entertain, tetapi sudah masuk ke kelas seni. Seni lawak yang digarap serius. Seluruh instrument yang ada. Dari konsep hingga pelaksanaannya. Salah satu lakon yang juga layak dicatat berjudul: Ratu Jadi Petruk. Bayangkan, dalam situasi yang sedang dibayangi represi rezim Orde Baru, sebuah grup lawak mampu menyuguhkan tontonan lawak yang bertabur satire namun tetap kocak menghentak dan bisa lolos dari sensor penguasa.

LHI, kini sudah tinggal nama (Arwah Setiawan meninggal 1995). Pertamor mungkin masih ada tapi praktis tidak terdengar lagi kegiatan humor-humornya dalam beberapa dekade ini. Pada tahun 1985 – 1990-an sebenarnya ada juga payung organisasi lawak yang menamakan diri Paguyuban Lawak Indonesia (PLI) di bawah pimpinan Eddy Sud. Aktivitas PLI cukup banyak menyelenggaralan event lawak. Ada yang off air, namun sebagian besar terkait dengan program acara di TVRI (hanya satu, siaran nasional). Setelah acara Anekaria TVR tidak tayang lagi, tampaknya PLI juga ikut surut dari percaturan publik. Di tahun 2000-an ke atas (maaf saya lupa persisnya), berdirilah organisasi lawak resmi dan merupakan representasi dari profesi lawak beserta seluruh derivatnya (termasuk produser, tim kreatif, penulis lelucon, pemusik, set developers, kameraman, sutradara lawak dst. dst.) yang sepakat membentuk PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia). Nama-nama pengurus awal di antaranya Indro Warkop dan Miing Bagito.

Kini, konon PaSKI telah melakukan pergantian pengurus baru sesuai instruksi AD-ART organisasi. Saya tak memantau banyak aktivitas organisasi ini. Sebagai orang luar, saya hanya mengandalkan radar perhatian lewat pemberitaan media dan issue yang muncul ke permukaan. Kira-kira bila digambarkan dalam sebuah doa, akan berbunyi, “Engkau sepi, aku sepi. Engkau ramai, aku ramai.”

Dan saya berharap, kalau betul PaSKI memang masih eksis, saya kok rindu keramaian kelas akbar dan nasional itu agar momentum yang telah dirintis para “pejuang” seni humor di masa lalu, bisa dibangkitkan lagi. Bisa dihidupkan lagi. Sehingga tontonan lawak pilihan yang bisa dinikmati masyarakat dapat lebih mencerdaskan dan mencerahkan. Tidak semata-mata tergantung pada yang ada di TV.

We miss you PaSKI!” doa saya penuh harap. Semoga anggapan adanya kemerosotan lawak di Indonesia,  tidak benar, sama sekali.
 

Mengapa Terjadi Kemerosotan Lawak di Indonesia?

OPINI | 29 October 2014 | 02:02 Dibaca: 46   Komentar: 0   1
Oleh Odios Arminto
Tak mudah menjawab pertanyaan di atas. Yang dapat dilakukan hanya adanya rasa kesal dan gemas karena kemerosotan yang ada begitu signifikan dan tak terbantahkan. Bagi anda yang pernah menjadi saksi bagaimana dunia lawak di tahun akhir 1970-an hingga 1990-an, dapat merasakan betul perbedaan yang ada.
Antara akhir tahun 1970-an hingga ujung tahun 1985-an, di Jakarta, di bawah bendera Lembaga Humor Indonesia (LHI) pimpinan Arwah Setiawan, dunia lawak (bahkan event seni humor secara umum) begitu bergairah dan tumbuh subur. Berbagai festival lawak dan seni humor (termasuk lomba kartun, musik, tari, pidato dan lain-lain) begitu membahana dan menyedot perhatian masyarakat secara nasional. Dari lomba musik humor itulah, salah satunya, LHI menjadi “ibu momentum” lahirnya musikus kelas legenda, Iwan Fals.
Antara 1985 hingga 1988-an, di Semarang, Jawa Tengah, di bawah bendera Pertamor (Perhimpunan Pencinta Humor) pimpinan Jaya Suprana, kegiatan seperti Seminar Humor, Lomba Merayu, Lomba Siul, Lomba Tertawa, bahkan Festival dan Lomba Kartun Internasional (Candalaga Mancanegara) terjadi secara susul-menyusul tanpa henti. Khusus tentang lomba kartun internasional (1987/1988 – pertama kali di tingkat Asia Tenggara), yang semula diperkirakan diikuti delapan atau sembilan Negara, ternyata di luar dugaan yang terjadi justru diikuti oleh 29 negara, termasuk Indonesia. Dengan jumlah karya partisipan yang masuk lebih dari 11 ribu kartun. Sebuah potensi yang menggembirakan.
Kembali ke kemerosotan seni lawak Indonesia dalam tiga dekade ini, tercatat pertunjukan lawak serius dan kolosal, terakhir dijumpai pada tahun 1989: Kolaborasi antara Teater Koma dan Bagito Gorup. Pergelaran hampir lima jam itu dilakukan di Gelora Senayan (sekarang: Gelora Bung Karno). Seluruh tempat duduk penuh. Seluruh penonton menyimak seluruh pertunjukan dengan suka cita hingga menit terakhir.
Festival lawak versi LHI, yang sangat layak dicatat adalah bertemunya grup-grup lawak kelas bangkotan yang memuat gagasan-gagasan bergizi, tampilan genuine, dan kelucuan maksimal. Salah satu grup lawak peserta yang membuat beberapa grup lawak di Jakarta “gemetaran” berasal dari Jawa Timur. Namanya Kuartet S dari Malang. Festival lawak bergengsi ini dalam catatan saya bukan lagi sekadar entertain, tetapi sudah masuk ke kelas seni. Seni lawak yang digarap serius. Seluruh instrument yang ada. Dari konsep hingga pelaksanaannya. Salah satu lakon yang juga layak dicatat berjudul: Ratu Jadi Petruk. Bayangkan, dalam situasi yang sedang dibayangi represi rezim Orde Baru, sebuah grup lawak mampu menyuguhkan tontonan lawak yang bertabur satire namun tetap kocak menghentak dan bisa lolos dari sensor penguasa.
LHI, kini sudah tinggal nama (Arwah Setiawan meninggal 1995). Pertamor mungkin masih ada tapi praktis tidak terdengar lagi kegiatan humor-humornya dalam beberapa dekade ini. Pada tahun 1985 – 1990-an sebenarnya ada juga payung organisasi lawak yang menamakan diri Paguyuban Lawak Indonesia (PLI) di bawah pimpinan Eddy Sud. Aktivitas PLI cukup banyak menyelenggaralan event lawak. Ada yang off air, namun sebagian besar terkait dengan program acara di TVRI (hanya satu, siaran nasional). Setelah acara Anekaria TVR tidak tayang lagi, tampaknya PLI juga ikut surut dari percaturan publik. Di tahun 2000-an ke atas (maaf saya lupa persisnya), berdirilah organisasi lawak resmi dan merupakan representasi dari profesi lawak beserta seluruh derivatnya (termasuk produser, tim kreatif, penulis lelucon, pemusik, set developers, kameraman, sutradara lawak dst. dst.) yang sepakat membentuk PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia). Nama-nama pengurus awal di antaranya Indro Warkop dan Miing Bagito.
Kini, konon PaSKI telah melakukan pergantian pengurus baru sesuai instruksi AD-ART organisasi. Saya tak memantau banyak aktivitas organisasi ini. Sebagai orang luar, saya hanya mengandalkan radar perhatian lewat pemberitaan media dan issue yang muncul ke permukaan. Kira-kira bila digambarkan dalam sebuah doa, akan berbunyi, “Engkau sepi, aku sepi. Engkau ramai, aku ramai.”
Dan saya berharap, kalau betul PaSKI memang masih eksis, saya kok rindu keramaian kelas akbar dan nasional itu agar momentum yang telah dirintis para “pejuang” seni humor di masa lalu, bisa dibangkitkan lagi. Bisa dihidupkan lagi. Sehingga tontonan lawak pilihan yang bisa dinikmati masyarakat dapat lebih mencerdaskan dan mencerahkan. Tidak semata-mata tergantung pada yang ada di TV.
We miss you PaSKI!” doa saya penuh harap. Semoga anggapan adanya kemerosotan lawak di Indonesia,  tidak benar, sama sekali.
Continue Reading | comments

Islah Aja Ah....Capek!

Kartun Non-O

Continue Reading | comments

Sibuk-sibuk Selalu!

Tuesday, November 11, 2014


Kartun Jajak Solo

Continue Reading | comments

Humor Issue

Loading...

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger