<div style='background-color: none transparent;'></div>
Home » » Cak Nun di Mata Robbi Gandamana

Cak Nun di Mata Robbi Gandamana


Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) - RG


"Orang Yang Berada Di Surga Adalah Orang Yang Mencari Tuhan.." [Think Different Ala Cak Nun]

Emha Ainun Nadjib atau biasa disebut Cak Nun adalah seorang ulama atau kyai yang punya pemikiran-pemikiran nggak umum, kadang kontroversial, berbeda dari kebanyakan ustadzzzz. Tapi tentu saja pemikirannya sangat masuk akal, brilian, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan . Ulasan di bawah ini adalah beberapa dari banyak sekali pemikiran beliau yang saya anggap sangat dahsyat untuk bahan renungan dan pembelajaran.


Ingat : Tulisan ini khusus untuk para gentho yang sedang berproses mencari kebenaran Tuhan. Sing ngaku alim atau ahli ibadah minggir dulu, menengo disik, gak usah komen. Jangan berharap ada dalil-dalil dari Syekh Zulkifli Jabal Syueb Sanusi (embuh sopo iku).
----------------------------------------------------------------------
Beberapa tahun belakangan marak 'sedekah ajaib' yang sering digiatkan oleh seorang ustad 'nganu'. Cak Nun mengingatkan, "Sedekah itu dalam rangka bersyukur, berbagi rejeki bukan dalam rangka mencari rejeki. Kalau anda mengharapkan kembalian berlipa-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah..tapi dagang!"
 
Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok.
Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun..kasih saja..titik! Setelah itu jangan berharap apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus tapi janji Tuhan jangan dijanjikan oleh manusia..!

Banyak orang beribadah yang masih salah niat. Naik haji biar dagangannya lebih laris. Shalat Duha biar diterima jadi PNS. Ibadah itu dalam rangka bersyukur..titik!. Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam shalatnya menangis tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya : orang tua, anak, istri, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang daganganya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : "kalau memang saya pantasnya miskin , dagangan saya nggak laku..saya ikhlas..manut...yang penting Tuhan ridha sama saya." Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek : "Ya Tuhan kenapa saya kok miskin, dagangan nggak laku, gak iso tuku montor....aku salah opo se..!???" Waaahh...malaikat langsung gregetan, njundu raimu : "Ohhh..cengeng koen iku!!!"
Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda . Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya nggerundel, gak ihklas , “matane…!”

Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita shalat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita shalat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya..titik!. Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridha, nggak marah sama kita.

Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum'at. Mau kenthu aja kok ya harus nunggu malam Jum'at. Itulah kita, tarafnya masih kemaruk pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rasul. Pikiren dewe..

"Surga itu nggak penting.." kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena cuma mencari surga nggak mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???

"Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka..fokuskan dirimu pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta..." kata Cak Nun.
----------------------------------------------------------------------
Ilmu kesehatan Cak Nun berbeda dengan ilmu kesehatan pada umumnya. Beliau tidak percaya bahwa olahraga itu pasti sehat.
 
"Gizi iku asline gak ono rek...tapi ojo diomongno dokter lho yo.." kata Cak Nun.
Omongan Cak Nun itu jangan diartikan linier dan harfiah. Bisa jadi itu cuman cara berpikir dan sugesti aja.

Kalau kita cermati bayi jaman dahulu yang hanya dikasih pisang atau tajin. Kok ya bisa tubuhnya tumbuh jadi besar. Atau gelandangan yang hidup di jalan bertahun-tahun makan nggak jelas apa yang dimakan, kok ya bisa hidup dan nggak pernah sakit. Dan masih banyak contoh yang lain.
Menurut Cak Nun kunci kesehatan itu terletak pada pikiran yang benar. Kalau pikiran kita salah maka akan membuat disorganisasi otak. Perintah yang datang dari otak ke organ tubuh yang lain (saraf, jantung, ginjal dan lainnya) akan jadi kacau. Maka akan menimbulkan sakit-sakit.

Usahakan dalam segala hal cara berpikir kita benar, walau kita nggak mampu bertindak untuk mewujudkan kebenaran itu. Misal kita tahu ada seorang presiden yang dalam pikiran kita dia nggak benar tapi kita tidak bisa merubahnya. Itu sudah beres, minimal pikiran kita sudah tepat.

Maka hati-hatilah dalam berpikir. Karena pikiran akan jadi ucapan. Dan ucapan akan jadi perbuatan. Perbuatan yang terus menerus akan menjadi kebiasaan. Karena sudah menjadi kebiasaan maka akan menjadi karakter hidup. Kalau sudah menjadi karakter lama-lama menjadi unsur dari kebudayaan dan bersama-sama menjadi kebudayaan masyarakat. Kalau kebudayaan masyarakat dibiarkan tanpa kritik atas dirinya maka dalam jangka waktu tertentu akan menjadi peradaban. Kalau sudah jadi peradaban, susah untuk dirubah lagi. Ibarat batu yang sudah jadi akik.

Begitu juga Endonesah dengan korupsinya, dengan kecurangannya, dengan kedengkiannya..tidak bisa dirubah lagi. Maka pisahkan dirimu dengan Endonesah yang itu.Temukan dirimu, kamu regulasi lagi, kamu teliti lagi benihmu, kesejatianmu.

Per-nya hidup adalah berpikir dengan benar. Tidak kebenaran berpikir akan membuat destruksi, disorganisasi sel-sel maupun urat-urat syaraf otak. Selanjutnya urat-urat syaraf yang kacau tadi menurunkan perintah ke seluruh tubuh dan dalam jangka panjang terakumulasi menciptakan sakit-sakit...stres, daya tahan tubuh berkurang, perut sakit, stroke, dsb.

Kunci kesehatan terletak di pikiran bukan di hati. Kalau hati tugasnya bertapa. Orang yang selamat adalah yang hatinya bertapa, tidak lirik kanan lirik kiri. Sekarang nikah, besok selingkuh, cerai, kawin lagi, selingkuh lagi, cerai lagi dan seterusnya.

Pernah suatu kali Cak Nun bertanya pada dokter, "Dok, jantung itu baiknya dipacu atau dihemat..?"
Doktere ngelu ndase. "Ono-ono ae sampeyan iku.....yooo dihemat..," jawab dokter seperti nggak yakin.
 
"Mangkane jangan suruh saya olahraga, " kelakar Cak Nun.
 
Dalam guyonannya suatu kali, beliau bilang kalau di Lauh Mahfudz konon tiap manusia dijatah detak jantung sekian milyar detak. Dan jatah tiap manusia berbeda .
 
“Soal benar tidaknya itu…aku yo gak eruh rek..” kata Cak Nun.
Dulu Cak Nun sempat berolahraga bulutangkis. Tapi sekarang tak dilakukannya lagi. "Itu bukan olahraga, itu penyiksaan!" kata beliau berkelakar.
 
Lihat saja saat shuttle cock menuju ke kanan, kita ikut lari ke kanan. Saat shuttle cock menuju ke kiri, terpaksa kita juga ikut ke kiri. Bagi beliau, olahraga itu harus berdaulat. Tubuh dan pikiran bebas melakukan sesuatu gerak atau aktifitas yang membuat tubuh jadi nyaman/sehat. Tapi yang terjadi adalah kita dipaksa oleh lawan untuk mengejar shuttle cock .

Orang sekarang tidak bisa membedakan antara olahraga dan permainan. Saat bermain sepakbola sebenarnya yang disebut olahraga itu saat pemanasan atau latihan. Tapi pada saat bertanding itu adalah permainan. Karena pikiran nggak merdeka, kita lari ke sana kemari mengejar bola karena dipaksa oleh lawan.

Tidak berarti Cak Nun anti olahraga. Olahraga tentu saja baik tapi kita hendaknya bisa memaknai semua itu dengan tepat. Dengan begitu tubuh kita nggak gampang capek dan sakit. Ini nggak cuma teori nggedabrus atau wacana omong kosong. Bukti otentiknya pada Cak Nun sendiri, yang masih lincah di usianya yang sudah kepala 6. Aktivitas luar biasa dengan jadwal jadi pembicara atau pengajian yang padat dan tidur nggak sampai 5 jam tiap harinya.

Menurut penelitian, gerakan shalat dan wudhu itu sebenarnya gerakan olahraga dan pijat refleksi yang asli ciptaan Tuhan. Mengalahkan semua gerakan olah raga ciptaan manusia : Tai Chi, Yoga, SKJ, Goyang Dombret, dsb. Kalau kita melakukan dengan benar, teratur dan waktu yang tepat maka dijamin akan menyehatkan.

Manusia diturunkan Tuhan di bumi sebagai khalifah (wakil Tuhan) untuk mengolah dan memanfaatkan apa yang ada di alam semesta. Atas dasar inilah Cak Nun yakin bahwa manusia mempunyai kedaulatan atas dirinya . Sampai batas tertentu kita bisa memerintah tubuh kita. Jadikan semua yang ada dirimu itu sebagai anak buahmu. Tanganmu adalah bagian dari tubuhmu tapi itu bukan kamu. Seperti juga matamu itu bukan kamu. Kalahkan mereka dengan niat dan sugestimu. (Tapi ya nggak iso rai welek diperintah dadi ayu).

Menurut Cak Nun, satu obat pun bisa diperintah jadi obat sakit yang lain. Ketika MUI mengharamkan pengobatan batu oleh Ponari di Jombang, Cak Nun pikir itu tidak tepat. Apa bedanya batu, kapsul atau obat yang lain. Sama-sama benda mati. Kesembuhan dari Tuhan bisa lewat apa saja. Syirik atau bukan itu tidak terletak pada bendanya tapi pada niat dan konsepnya.

Karena umur sudah kepala 6, maka otomatis kemampuan tubuh pun menurun. Begitu juga dengan kemampuan penglihatan Cak Nun. Tapi dengan keyakinan dan sugesti tadi, beliau melatih, memerintah matanya untuk bisa melihat dengan normal. Sekarang mata beliau bisa normal lagi tanpa harus pakai kaca mata. Tentu saja tidak semua orang bisa berhasil dengan itu. Kasihan para penjual kaca mata...gak payu mblo.
----------------------------------------------------------------------
Suatu kali beliau bertanya pada jamaahnya, "Kalian suka puasa nggak..?"
Reaksi jamaahnya beragam, ada yang jawab "Suka..!" dengan semangat dan ada yang jawab "Yaa..suka.." dengan malu-malu seolah nggak yakin.
"Alaa raimu...nggak ada manusia yang suka puasa..!" kata Cak Nun.

Menurut Cak Nun, manusia itu melakukan puasa karena perintah Tuhan (apalagi perintahnya wajib). Kalau manusia suka puasa, ya nggak akan diperintahkan..ngapain, lha wong sudah suka kok. Berhubung itu perintah Tuhan dan hukumnya wajib, mau nggak mau harus dijalankan. Tapi manusia menjalankannya dengan ikhlas sebagai bentuk cinta pada Tuhannya. Dan orang hebat adalah orang yang melakukan dengan ihklas perbuatan yang tidak disukainya. Kalau orang melakukan sesuatu karena memang suka..ya apa hebatnya.

Sifat dasar manusia adalah lebih banyak meminta daripada memberi. Sebuah perintah (Tuhan) harus diiming-imingi imbalan dulu. Kayak anak kecil yang diiming-imingi coklat kalau mau si anak hapal ayat suci tertentu. Imbalan pahala yang sangat besar itu adalah sebuah bentuk stimulus agar manusia tergerak dan jadi suka. Itu pun nggak jadi jaminan manusia mau melaksanakan.

Kalau hukumnya nggak wajib, maka segelintir orang yang mau melaksanakan. Perhatikan saja saat puasa sunnah Syawal, walaupun diiming-imingi 'puasa seminggu pahalanya sama dengan puasa setahun', hanya sedikit orang yang menjalankan. "Males boss..cuman puasa sunnah..nggak wajib!"
Dan puasa (atau semua ibadah yang lain) bukan untuk kepentingan Tuhan. Tuhan gak pathe'en, manusia mau melakukan atau tidak..gak ngurus!. Semua sudah ada aturan dan sanksi yang jelas. Puasa itu 100% untuk kepentingan manusia. Untuk kebaikan, pelatihan dan pemahaman manusia.
----------------------------------------------------------------------
Masih buanyakk pemikiran-pemikiran nyeleneh tapi cerdas dari beliau yang kalau ditulis bisa jadi disertasi…tapi sementara ini dulu mblo… kesel nulise, enak awakmu cuman moco tok ae huwehehehe…!



Nggak Ada Nabi Yang Mengaku Alim 
(Ilustrasi: RG)

Jujur aku rodok sungkan nulis koyok ngene iki rek. Yang saya takutkan adalah orang menganggap saya ini hebat, pinter ngaji, tahu agama. Ketahuilah mblo, saya ini cuman seorang gentho bosok yang sedang berproses belajar agama. Maka saya sebisa mungkin tidak menyantumkan dalil-dalil biar tidak terkesan ngustadz (tapi pitutur Cak Nun nggak asal ngablak, semua ada dalilnya dan atau melalui proses ijtihad yang panjang). Semoga bisa menjadi bahan renungan dan pembelajaran. Yo wis lah, zuukk mariii..
-------------------------------------------------------------------------
Walaupun seorang ulama atau kyai, tapi Cak Nun selalu berpakaian seperti layaknya orang biasa. Bisa dikatakan ganok bedane karo wong dodol akik, buruh pabrik atau sales kaos kaki.
 
"Kalau saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. Cuman saya takut semua orang akan berkesimpulan bahwa saya lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa saya lebih alim...Kalau itu tidak benar, itu khan namanya 'penipuan'...!" kata Cak Nun.

"Kalaupun memang benar, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain (melalui pakaian)? Tidak boleh kan? Maka semampu-mampu saya, berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi 'penipuan' saya kepada Anda. Anda tidak boleh mendewakan saya, me-Muhammad-kan saya, meng-habib-kan saya, karena saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya dan tidak karena yang lain. Maka Anda obyektif saja sama saya...” lanjut Cak Nun.

Menurut Cak Nun, seorang ulama harusnya bisa berpakaian yang sama dengan pakaian umatnya yang paling miskin. Cak Nun tidak mempersalahkan orang yang bergamis dan berserban. Malah salut sama mereka yang menunjukan kecintaannya pada Rasulullah dengan meniru persis apa yang ada di diri Rasul.

Tapi perlu diketahui bahwa baju Rasulullah tidak sebagus dan sekinclong yang dipakai kebanyakan orang sekarang. Baju Rasulullah sendiri ada 3 jenis : yang dipakai, yang di dalam lemari dan yang dicuci. Dan semua orang Arab di jaman nabi, model pakaiannya seperti itu. Nggak cuma Nabi Muhammad..;Abu Jahal, Sueb, Sanusi, Atim dan orang Arab lainnya, model klambine koyok ngono iku. Jadi sebenarnya sunnah Rasul yang paling mendasar adalah Akhlaknya bukan kostumnya.
Orang yang disukai Tuhan adalah orang yang menyebut dirinya buruk, biso rumongso, nggak rumongso biso. Orang yang diragukan keihklasannya adalah orang menyebut dirinya baik. Semua nabi mengaku dirinya dzolim : "Inni Kuntu Minadzolimin"(aku termasuk orang yang dzolim). Nggak ada nabi yang mengaku dirinya sholeh. Kalau ada orang yang mengaku paling benar atau alim, langsung tinggal mulih ae...ndang baliyo sriii..!

"Kalau sama Tuhan kita harus 100%, kalau kepada ilmu kita, cukup 99%. Seluruh yang saya ketahui dan yakini benar itu belum tentu benar. Maka saya tidak mempertahankan yang saya yakini benar karena mungkin mendapatkan ilmu yang lebih tinggi." kata Cak Nun.
Karena itulah saat bersama jamaahnya, Cak Nun selalu memposisikan dirinya sama, sama-sama belajar. Dan Cak Nun sendiri lebih suka pada jamaah yang sedang berproses daripada yang sudah ahli ibadah. Karena itu lebih tepat sasaran. Bukan pengajian pada orang yang sudah ngerti Al Quran, bukan pengajian yang menyuruh haji orang yang sudah berhaji, menyuruh ngaji orang yang sudah ngaji tiap hari, menyuruh orang shalat yang sudah shalat, dst.

"Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati, " begitu pesan Cak Nun.

"Kalau saya kadang bicara pakai bahasa Jawa, jangan dibilang Jawasentris..saya cuman berekspresi sebagai orang Jawa..saya lahir dan dibesar di Jawa..diperintah Tuhan jadi orang Jawa...maka saya mencintai dan mendalami budaya saya..siapa bilang Jawa itu tidak Islam..kalau saya ayam saya nggak akan jadi kambing..kalau anda kucing jangan meng-anjing-anjing-kan diri..Kita memang disuruh Bhineka (berbeda-beda) kok..!"

Banyak orang salah kaprah menyebut Cak Nun sebagai penganut kejawen. Kejawen ndasmu... 'Software' Cak Nun lebih canggih karena laku tirakat luar biasa yang dilakukan sejak kecil. (Laku tirakat yang tidak bertujuan untuk menguasai ilmu hitam koyok mbahmu mbiyen). Sehingga beliau waskito, mempunyai sidik paningal, mempunyai pandangan yang tajam dan jernih soal kehidupan.
Little bit wagu kalau ada orang Jawa (atau Indonesia) yang malah membangga-mbanggakan budaya Arab atau Barat. Benci kebaya tapi nggak ngasih solusi bagaimana kebaya bisa Islami. Ingat : Jowo digowo, Arab digarap dan Barat diruwat.
-------------------------------------------------------------------------
Cara dakwah Cak Nun hampir mirip dengan dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga. Satu-satunya Wali yang mengerti bahwa dakwah harusnya digarap secara kultural dan strategi ke-Jawa-an, karena wilayah dakwahnya ada di Jawa. Begitu juga Cak Nun dalam dakwahnya yang berpartner dengan kelompok musik Kyai Kanjeng pimpinan Nevi Budianto.

Ada cerita ketika Cak Nun dan Kyai Kanjeng bertemu dengan Yusuf Islam (Cat Stevens) seorang penyanyi pop lawas di London. Yusuf Islam yang Mualaf ini heran, dipikirnya seorang muslim itu diharamkan main musik. Rupanya mas Yusuf ini mengartikan ayat (hadits) secara harfiah atau tekstual. Tahu khan bunyi hadits-nya? sip, pinterrr.

Yusuf Islam ditanya sama Cak Nun, " Awakmu mrene numpak opo mas.?"
"Numpak montor cak..." jawab Yusuf Islam.
"Seperti mobil, musik itu netral, tidak ada agamanya, bisa dipakai sebagai kendaraan ke surga atau ke neraka.....bermusik boleh saja, asalkan tujuannya untuk mengagungkan Allah. Masjid pun kalau untuk memusuhi Allah, justru jadi sarana masuk neraka, " jelas Cak Nun yang menggunakan musik Kyai Kanjeng sebagai kendaraan untuk berdakwah.
 
"Oalaa..ngono yo cak,..yo wis suwun..see you tomorrow, " akhirnya mas Yusuf pun melanjutkan kegiatan musiknya sampai sekarang. Semprul, gara-gara tafsir harfiah, karier musiku rusak mblo, begitu mungkin batin Yusuf Islam.

Bukan musiknya yang haram tapi musik yang apa, bagaimana dan untuk apa. Hidup manusia tak bisa lepas dari musik. Unsur musik itu : bunyi, nada dan irama. Kalau bunyi dilarang, awakmu nek ngising ojok sampek ngeden...!. Manusia bicara pun pakai nada, tempo dan irama. Nada omongan Jawa berbeda dengan orang Batak atau suku lain. Saat berjalan pun, sadar atau tidak sadar, pakai irama dan tempo. Dan seterusnya...(Sori saya nggak memperpanjang soal ini...bakalan bisa jadi berlembar-lembar tulisan...ndas mumet mblo.)
-------------------------------------------------------------------------
Cak Nun tidak pernah menempuh pendidikan (formal) yang tinggi. Pendidikannya hanya sampai semester 1 Fakultas Ekonomi UGM. Tapi Cak Nun tampil dengan cerdas dan meyakinkan dalam seminar-seminar berdampingan dengan nama-nama top markotop, bergelar akademik tertinggi. Yang sekolahnya jauh di Amrik sana. Malah Cak Nun yang selalu lebih ‘bintang’ dari siapapun di forum-forum tersebut. Profesor pun kadang minder kalau 'diadu' sama Cak Nun dalam sebuah dialog kebudayaan atau hal yang lain.

Satu-satunya orang yang diakui Cak Nun sebagai guru adalah Umbu Landu Paranggi. Seorang sufi (begitu Cak Nun menyebutnya) yang banyak membimbing Cak Nun menemukan makna dan hakikat hidup melalui sastra di 'universitas' Malioboro. Walau Umbu beragama Marapu, agama asli Sumba, itu tidak menjadikan halangan Cak Nun untuk terus menimba ilmu darinya.

Ilmu tidak selalu diperoleh dari guru, ustadz, kyai, ulama atau ahli agama. Kebenaran bisa datang dari siapa saja. Seorang bajingan bisa saja membuka mata hatimu pada sebuah hidayah. Seorang ulama bisa saja membuatmu ‘kerdil’ dengan ilmu pengetahuan dan keyakinan yang kamu dekap erat. Yang membuatmu jadi menutup diri pada ilmu dan pengetahuan yang ada di luar sana. Yang kamu anggap bertentangan dengan keyakinanmu. (Cak Nun)

Belajar boleh pada apa dan siapapun. Nggak masalah mempelajari Fir'aun, Hitler, Che Guevara, Fidel Castro dan lainnya. Semua yang ada di dunia ini adalah cahaya ilmu. Selama kita dewasa, kita nggak akan gampang 'masuk angin' oleh kalimat kayak apapun. Yang penting nggak mudah terseret untuk menyalahkan atau membenarkan. Ambil saja makna dan manfaatnya. Simpan yang baik, tendang jauh-jauh yang mblendes.

"Saya merasa bersyukur karena saya dilindungi Tuhan sehingga dihindarkan dari sekolah yang saya masuki. Selalu diusir oleh sekolah-sekolah tadi . Itu karena desakan untuk meneliti diri saya sangat besar. Dan itu diganggu oleh guru-guru saya, " kelakar Cak Nun serius (kelakar kok serius..ya'opo se rek).

Kalau kita cermati saat bayi baru lahir. Kok si bayi ini menggerak-gerakan mulutnya, bisa tahu tempat dan caranya menyusui. Maka sebenarnya pendidikan itu jangan ge-er, guru itu tidak bisa mengajari orang, guru itu bisanya menemani. Agar murid punya bahan dalam rangka meneliti dirinya sendiri. Kalau kita tidak tahu diri kita ini siapa, bagaimana kita tahu kemampuan kita.

Kalau nggak tahu kita ini kiper apa penyerang, maka saat di lapangan sepakbola, kita bakalan kebingungan, aku iki lapo nang kene..? Kalau kucing jangan diajari menggongong. Kalau kambing jangan diajari terbang. Maka kenali dirimu, barang siapa mengenali dirinya sesungguhnya ia mengenali Tuhannya.

Kalau kamu bernama Paimo. Apa kamu itu memang Paimo? Itu khan nama yang diberikan bapakmu. Kalau kamu menamai dirimu sendiri, pasti bukan Paimo. Jadi dirimu itu bukan Paimo, bukan Markeso, bukan semua itu. Dirimu dijadikan tertutup. Begitu kamu punya orang tua, begitu masuk sekolah TK sampai kuliah..kamu ditutupi. Tugas sekolah adalah membuka tabir siapa dirimu, memberikan alat supaya mengenal dirimu. Sekolah malah menutup-nutupi dan malah ditambahi sarjana anu, ditambah doktor, ditambah kepala dinas, dsb.

"Kamu itu harus jadi tuan, sekolah itu alat anda, jangan sampai diperalat sekolah. Andai kamu perlu ijazah, oke no problem..ikutilah aturan sampai mendapatkan ijazah. Tapi tidak ada hubungannya dengan cari ilmu. Kalau cari ilmu ya banyak tempatnya, tidak hanya di sekolah. Kuliah itu mencari ijazah untuk membahagiakan orang tuamu. "

Jadi jangan salah niat. Kalau niatnya mencari ilmu, goblok koen mblo..! Kita bersekolah itu biar punya sertifikat buat mencari pekerjaan. Sekolah itu tidak mengenal Tuhan. Tuhan tidak diakui secara akademis. Karena Tuhan tidak bisa diteliti, didata, dianalisis dan disimpulkan. Segala sesuatu yang tidak memenuhi persyaratan akademis (nggak ilmiah) itu tidak diterima. Jadi semua universitas itu sebenarnya atheis...!

Pastikan anda tidak terjajah oleh dunia pendidikan. Penting mana anda sekolah atau belajar? Anda 'diperalat' sekolahan atau anda 'memperalat' sekolahan? Anda bergantung pada sekolah ataukah sekolahan yang tergantung pada anda? Terhadap pendidikan, jadikan anda subyek dari sekolahan, bukan obyek sekolahan.

Alat kejahatan yang paling canggih adalah aturan-aturan, maka bikinlah aturanmu sebelum kamu dikalahkan orang lain dengan menggunakan aturan dia.

"Kamu itu sekarang diatur oleh yang membuat sekolahan..kamu seharusnya nyantri tapi kamu dikasih aturan : nyantri itu tidak ada masa depannya, yang bermasa depan itu sekolah. Dan sekolah mempunyai aturan yang lebih detail lagi, bahwa orang harus jadi S1, S2.." kata Cak Nun di depan santri-santri NU suatu kali.

Pendidikan itu tujuannya sederhana, biar kita tidak kesasar saat kembali ke Tuhan. Maka teruslah belajar agar tidak kesasar. Sebenarnya tidak sekolah itu lebih baik tapi tetap ente harus sekolah mblo..!. Karena begitu sekolah kamu lupa dirimu, ketutupan. Begitu kamu sarjana, kamu pikir kamu itu sarjana. Sarjana itu bukan hakikat, bukan wujud, bukan kasunyatan. Sarjana itu cuman kartu parkir. Maka niatkan sekolah untuk membahagiakan orang tuamu. Ngono ae wis dan itu adalah motivasi yang paling tinggi. Cepatlah lulus biar orang tuamu bahagia. Beressss.
-------------------------------------------------------------------------
Cak Nun adalah seorang 'pejalan sunyi'. Beliau 'out of the box' dari semua hiruk pikuk duniawi. Sekarang tidak pernah mau tampil di media nasional. Hanya mau tampil di TV lokal, itu pun bukan keinginan Cak Nun. Tapi media yang datang, merekam event dan menyiarkannya.Tanpa transaksi, karena memang tujuannya sodaqoh . "Saya nggak mau diatur media." kata Cak Nun.

Cak Nun bukan NU juga bukan Muhammadiyah atau yang lainnya. Beliau orang yang fleksibel, bisa menempatkan dirinya di semua kalangan dan aliran. Malah kalangan dan aliran tertentu yang tidak bisa menerima Cak Nun. Menurutnya, agama tidak dianjurkan untuk di-lembaga-kan. Yang penting sebisa mungkin akhlak kita seperti Rasulullah.

Cak Nun tidak pernah jadi anggota sebuah organisasi atau partai politik. Kalau beliau jadi ketua dewan syuro SAR Jogja, itu karena diminta dan alasan kemanusiaan yang nggak mungkin ditolak. Pernah juga jadi anggota ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) atas permintaan BJ. Habibie yang berjanji akan menyelesaikan kasus Kedungombo yang ditangani Cak Nun. Tapi ternyata janji tinggalah janji, Cak Nun pun keluar dari ICMI.

"Saya tidak berpolitik dan jangan sampai ada politisi Indonesia yang boleh masuk dalam pikiran saya, apalagi dalam hati saya, karena syarat rukunnya tidak terpenuhi sama sekali..!" tegas beliau.
"Ahmaq adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu..orang yg tidak mau mendengarkan, memikirkan dan mempertimbangkan pendapat-pendapat orang lain. Demokrasi di Indonesia adalah salah satu bentuk dari ke-ahmaq-an. sudah berkali-kali tertipu dan menjadi korban, tapi tetap dipakai juga.." kata Cak Nun.

Cak Nun sendiri nggak suka dengan demokrasi (endonesah). Baginya demokrasi adalah diktator mayoritas. Yang menang adalah yang mayoritas (suara terbanyak), bukan yang benar. Politik kita adalah politik yang tidak mungkin melahirkan pemimpin sejati. Kerikil bisa ditempatkan di maqam-nya berlian, begitu juga sebaliknya. Orang sehebat apapun tidak akan pernah menjadi apa-apa kalau tidak ikut Parpol.

Cak Nun juga menganggap kampanye partai di Indonesia itu aneh. "Kalau ada partai kampanye di depan kader partainya sendiri, itu namanya onani..!"

Partai itu seharusnya kampanye kepada partai yang lain. Kampanye kok di depan anggotanya yang jelas sudah tahu persis misi dan tujuan partai tersebut. Menurut Cak Nun, jargon Pemilu-pun juga salah kaprah (langsung, umum, bebas dan rahasia). "Bebas kok rahasia..kalau rahasia ya nggak bebas..! Ya'opo se rek."

Karena sikapnya yang indepeden itulah Cak Nun sempat dicap sombong oleh sebagian kalangan. Cak Nun menanggapi hal itu dengan santai :
"Saya memang sombong. Harus itu! Sombong kepada dunia itu wajib hukumnya. Yang tidak boleh itu sombong kepada Tuhan. Tapi, kepada dunia, kepada popularitas, kepada semua yang ada di dunia, kepada uang, harta benda, anda harus sombong! Kalau tidak, anda hanya akan jadi budak dunia...!"
-------------------------------------------------------------------------
Sementara ngene disik...kapan-kapan disambung maneh mblo....
Kalau ada sesuatu yang nggak paham, solusinya adalah kita belajar memahami. Kalau ada sesuatu yang tidak setuju, solusinya adalah mencoba menghayati dan menerima sesuatu yang tidak sama. Jangan lupa, bahwa kamu juga tidak sama dengan dia. Jangan berpikir kamu tidak setuju pada sesuatu hal, sesuatu hal itu juga nggak setuju dengan kamu..! Melihat uler jijik, padahal ulernya juga jijik lihat kamu. Rumangsamu..

Nggak perlu teriak : liberal! ;apalagi ngafir-ngafirno. Pikiren nang awakmu dewe, opo uripmu iku wis bener? Nek pancen Cak Nun kafir utowo liberal, terus koen kate lapo..?

Cak Nun cuman berusaha menyumbangkan gagasan dan pemikirannya untuk menunjukkan jalan lain bagi kita yang sudah beku dan merasa tak lagi menemukan cakrawala yang suejukk. Cak Nun memberikan kita sebuah alternatif cara menilai, dan menyikapi hidup. Hanya itu..........................bersambung...mbuh kapan (red).

Robbi Gandamana, 10 Juli 2015
(Sumber : Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta atau pengajian maiyah yang lain, mbah google, buku, dsb)





Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger