<div style='background-color: none transparent;'></div>

Keberagaman Kebersamaan by Jitet Koestana

Keberagaman Kebersamaan by Jitet Koestana
HumOr Edisi: 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84 Januari - Desember 2018 - Tahun ke VII

Ramalan Akhir Tahun

Thursday, December 5, 2013

Elit Makin Makmur, Rakyat Tetap Manyun - Kartun Non-O



DUKUN DAN RAMALAN AKHIR TAHUN

Oleh Ki Jenggung

TIAP bulan Desember di penghujung tahun, Dul Kemat siap-siap menerima order. Pria pengangguran itu punya rezeki tahunan lumayan. Apalagi menjelang tahun 2014, “dagangan” dia laris manis. Dia bisa meraup keuntungan bersih 100% dengan jumlah miliaran. Kok bisa?
Bisa, sebab secara finansial Dul Kemat tidak keluar modal sama sekali. Modalnya soft skill yang luar biasa, yaitu merayu dan mengibul. Bahasanya halus, menekan orang secara tidak kentara, mengancam sopan, membikin orang bingung sekaligus mengumbar janji, pujian, dan penggiringan emosi.

Tahun 2014 adalah tahun hiruk-pikuk politik. Banyak harapan ekonomis ditawarkan sekaligus kegilaan psikologis. Orang ramai mendaftarkan diri menjadi anggota legislatif tanpa latar belakang politik memadai, apalagi berkomitmen terhadap bangsa dan negara. Ini cuma masalah bisnis semata: berapa modal yang dikeluarkan, lantas berapa yang mampu dia embat dari proyek-proyek negara. Maka, orang pun kesetanan mencari cara apa pun agar bisa jadi anggota DPR. Nah, di sinilah Dul Kemat memainkan perannya.

Lewat calo-calo yang disebar, dia mempromosikan kehebatannya. Disebutkanlah nama-nama tokoh yang sedang ngetop agar calon klien percaya. Dul Kemat tidak boleh dibayar. Dosa. Dia hanya perlu “mas kawin” yang nilainya malah sampai ratusan juta, bahkan miliaran.

Di kampung pecinan, si Acong sudah bersiap-siap jadi kwamia musiman. Perlengkapan kerjanya yang sudah hampir setahun disimpan di lemari dikeluarkan: seperangkat kartu cina, kain warna merah, dan seekor burung gelatik yang dibelinya dua minggu lalu. Meski masih dua bulan lagi, suasana Imlek sudah terasa terutama di kalangan pengusaha. Gimana nasib shio saya tahun depan? Apa ciong yang harus dihindari? Kapan kepala naga menoleh, dan sebagainya.

Si Acong pura-pura jadi manula suci, padahal setiap malam dia suka kongko di warung kopi, atau kopi thiam dan sesekali melirik pelayan. Yang dilirik langsung tanggap, lalu diam-diam menuang ciu ke cangkir si Acong. Keahlian Acong adalah membaca wajah orang. Bukan untuk mengira-ngira sifat-wataknya, melainkan mengira-ngira isi kantongnya. Sama seperti Dul Kemat, dia dilarang menentukan tarif, sebab dilarang oleh tepekong. Dia cuma bilang tamunya punya masalah batin yang harus dibersihkan. Si klien jangan coba-coba menuruti, sebab persyaratannya berat, yaitu mendatangkan bunga teratai dari Sichuan, akar wangi dari Tibet, kerak naga dari Nanjing. Si klien pasti pusing. Supaya lancar, Acong menawarkan solusi yaitu membelikan bahan-bahan itu untuk didoakan di bongpay (makam) di Singkawang, Bagansiapi-api, atau Bangka-Belitung. Dia bicara begitu agar si klien pusing dan akhirnya mengalah untuk menyerahkan biayanya yang sampai ratusan juta rupiah. Si Acong pura-pura acuh tak acuh, tapi hatinya terasa bakal meloncat dari dada bengeknya.

Dul Semprul biasanya berambut gondrong. Menjelang akhir tahun dia langsung mencukur habis rambutnya. Gundul. Dia mengaku baru turun bertapa dari Gunung Lawu. Dia sangat beruntung, sebab kliennya malah dari anggota legislatif yang masih menjabat. Mereka minta pencalonannya kembali mulus, dan jadi lagi. Ini sasaran empuk, sebab Dul Semprul tahu mereka ini sudah mengumpulkan harta. “Mas kawin”-nya lebih tinggi lagi.

Selain itu, Dul Semprul bakal kedatangan tamu yang minta selamat karena sedang diincar KPK. Biayanya jelas lebih tinggi, sebab orang ketakutan gampang membuka dompet lebar-lebar asal selamat. Pesanan lainnya tak kalah rumit, yaitu bagaimana selamat dari dampratan istri pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan, jangan sampai para pacar dan istri simpanannya tenang, jangan sampai klien ini berbuat yang tidak-tidak sebab jenis yang terakhir ini sering berasal dari dunia malam yang keras, sehingga ancamannya bisa mematikan. Jangan sampai terjadi kekerasan yang membawanya ke polisi, sebab di sana nanti terungkap semua dosanya. Bayangkan, yang menjenguk akan saling tidak mengenal walaupun punya bapak atau suami yang sama. Keterlaluan!
Ada lagi pria yang datang dengan mata sembab dan wajah biru-biru seperti bekas hantaman benda keras. Di dahinya ada bekas peninggalan tongkat perata adonan roti. Pipinya ada barutan bekas cakaran seperti kuku kucing liar. Dia bercerita mengenai nasib buruknya selama ini, dipaksa-paksa untuk jadi pejabat supaya istrinya yang datang dari keluarga terhormat tidak terhempaskan harga dirinya karena mendapat suami melarat dan diam-diam nakal juga. Dia menangis di depan dukun dadakan itu. “Empuk,” kata si dukun dalam hati.

Selesai memberi ketenangan dan mengutip kata-kata bijak persis para motivator itu, sang dukun memberi si pria bungkusan kain hitam supaya disimpan di sakunya. Jangan dilangkahi, sebab akan membikin kondor pelakunya. Jangan dipakai masuk ke WC, dan harus diberi minyak misik, yuparon, itfir salma, dsb.

Si pria pamit dan menyerahkan “biaya administrasi konsultasi" pada sekretaris sang dukun. Si sekretaris bilang ke sang dukun, uang dari klien dikurangi untuk biaya pengamanan. Sudah itu ada cukong tanggung mendekat minta bagian, sebab dia yang jadi sponsor. Lepas dari orang satu ini, ada empat lima orang kekar minta bagian sebagai tim inti.

Itung-itung, si dukun cuma mendapat sisa yang hanya cukup untuk membeli rokok kretek sebungkus. “Diamput!” teriaknya. Inilah risiko profesi, baik sebagai pengacara, anggota DPR, pejabat eksekutif, calo atau dukun sekalipun. Dunia kita memang diwarnai tipu-menipu, baik dalam skala besar sekali atau gurem sekalipun. Persis penyakit “gila tahunan”. Gila!


Continue Reading | comments

Refleksi Akhir Tahun 2013


Masih Kedodoran - Kartun Jitet Koestana - Kompas

Continue Reading | comments

Dokter Mogok: Tanda-Tanda Zaman?

Ariel Heryanto

Ariel Heryanto - Profesor di The Australian National University

Kemarin berlangsung sebuah peristiwa bersejarah: pemogokan dokter Indonesia berlingkup nasional. Ada juga demonstrasi mereka di jalan utama di ibukota Jakarta.

Saya tidak tahu seluk-beluk kasus hukum tiga dokter yang telah memicu pemogokan para dokter ini. Saya juga kurang berminat tahu lebih jauh soal itu. Bukan kasus pemicu itu sendiri yang menarik perhatian saya. Dua hal yang menarik perhatian saya. Pertama, dipilihnya pemogokan sebagai medium, modus, bentuk, atau format yang dipilih para dokter ini untuk menyatakan greget mereka. Kedua, reaksi sebagian tidak kecil dari masyarakat yang menolak, menghujat, atau menyayangkan bentuk atau format pemogokan ini.

Bisa dipahami bila masyarakat Indonesia pasca-1965 tidak siap menerima kenyataan dokter-dokter nasional mau dan mampu melangsungkan pemogokan. Secara prinsip, pemogokan dinajiskan, apalagi bila pemogokan itu dilangsungkan di kalangan kaum profesional (pekerja “kerag putih”, dengan pendidikan tinggi dan gaji kelas menengah).

Pemogokan para dokter baru-baru ini membuktikan penindasan bergaya Orde Baru (yang masih terus dikembang-biakan oleh elit negara masa kini), tidak berhasil secara tuntas. Tetapi pemogokan para dokter di akhir tahun 2013 ini bukan “penyimpangan” yang pertama atau terbesar dalam gejolak kaum profesional kelas menengah pasca 1965. Di pertengahan dasawarsa 1990an, Indonesia pernah menyaksikan pemogokan tanpa-henti selama 9 bulan di kalangan ratusan kaum akademik (dosen, mahasiswa, pegawai) di UKSW Salatiga. Dalam kurun waktu yang lebih panjang, kita menyaksikan perjuangan kaum jurnalis untuk membentuk serikat buruh, walau pemogokan bukan/belum menjadi bentuk gerakan besar-besaran.

Pemogokan membutuhkan tidak saja kesadaran atas hak kerja yang layak dalam hubungan industri kapitalisme, visi sosial dan etika kerja yang jernih, namun kepemimpinan dan kemampuan berorganisasi yang bagus. Pemogokan merupakan senjata paling ampuh dari organisasi serikat kaum buruh. Semua ini dinajiskan dalam logika politik dan ideologi Orde Baru. Sebagai gantinya dipropagandakan sebuah citra moralis bahwa kerja dokter serta profesi kelas menengah lain sebagai sebuah pengabdian yang “mulia” dan tidak boleh dikotori perhitungan hak kerja, politik, atau tuntutan gerakan sosial.

Sejumlah orang menulis di media massa dan media sosial, menyalahkan pemogokan dokter ketika sejumlah pasien di rumah sakit terlantar. Ini berbeda dari kasus pemogokan para akademik di UKSW tahun 1990an yang didukung sebagian besar media massa. Bukan saja para dosen itu tidak disalahkan karena kuliah ribuan para mahasiswanya terlantar, tetapi ratusan mahasiswa itu malahan ikut mendukung gerakan dosen dengan bergabung dalam aneka demonstrasi. Sebagian orangtua mereka bahkan mengancam akan menggugat universitas (bukan dosen) yang dianggap bertanggung-jawab atas terlantarnya pendidikan para mahasiswanya.

Jadi, bagaimana gejolak kelas menengah kota profesional ini dapat dipahami? Jawabnya pasti lebih dari satu. Saya urun beberapa butir pokok yang bisa dibahas lebih jauh:

(1) Kaum profesional jelas bukan kelompok yang paling menderita di Indonesia. Tentu mereka sadar ini, dan tidak perlu diberitahu. Tapi kalau sampai mereka turun ke jalan dan berani mengambil resiko dihujat orang karena melepaskan predikat moralis sebagai pengabdi yang “mulia”, barangkali kehidupan dan kerja rutin mereka mengalami kemerosotan luar biasa. Barangkali sedang terjadi proses “proletariatisasi” kelas menengah, sehingga secara status dan hubungan kerja (bukan tingkat gaji dan aneka tunjungan secara moneter) semakin mirip dengan buruh yang tidak berdasi, tidak berblazer, tidak berparfum bila ke kantor.

Bila pemogokan dosen atau gerakkan serikat juralis nyaris dua dekade yang lalu mendapat cukup banyak simpati dan pemogokan para dokter kurang didukung massa, sebabnya bukan pada perbedaan profesi mereka, tetapi pada perbedaan suhu politik dan ekonomi yang berbeda. Dua dekade lalu, terjadi krisis kapitalisme global tidak saja pada tingkat moneter, tetapi juga moral dan ideologi. Kini suasananya berbeda, dan ini menjadi butir kedua pokok di bawah ini.

(2) Proses proletariatisasi masa kini berlangsung secara global, berkat kejayaan kapitalisme dan ideologi neoliberalisme. Walau proses ini berlangsung secara ajeg, banyak di kalangan masyarakat Indonesia pasca-1965 yang tidak siap menerima kenyataan itu secara mental, moral dan intelektual. Maklum analisa sosial, politik dan kesejarahan yang memadai di lembaga pendidikan formal untuk memahami kerja kapitalisme tidak disediakan di lembaga-lembaga formal atau media massa.

Bukan hanya masyarakat luas akan mengecam profesional kelas menengah yang mogok, karena dianggap tidak bersikap “mulia” seperti para malaikat dalam cerita anak-anak. Bahkan di kalangan profesional kelas menengah sendiri sering terjadi kegagalan memahami atau penyangkalan bahwa pada hakekatnya mereka adalah buruh – secara mendasar tidak berbeda dari buruh lain – walau digaji lebih tinggi daripada rata-rata gaji buruh, diberi istilah muluk untuk jabatan mereka, dan bekerja di kantor yang mengkilat.

(3) Di saat kapitalisme sedang menikmati kejayaannya di planet bumi seperti saat ini, terasa semakin perlunya kritik-kritik terhadap kapitalisme ditengok kembali, dikaji ulang, termasuk berbagai versi Marxisme yang pernah bertumbuh dan sudah dianggap kuno atau buntu di sejumlah kalangan.

Continue Reading | comments

Bergurau Bersama Apat dan Non-O


Kartun Non-O



Kartun Non-O

Kartun Apat

Kartun Apat

Continue Reading | comments

Karikatur Fonda Lapod yang Menggegerkan AustraliaT


PM Tony Abbott di Mata koran Rakyat Merdeka

Continue Reading | comments

Demokrasi Orang-orang Bijak

Kartun Non-O

Dalam catatan David Reeve (peneliti, sejarawan, pengajar bahasa dan pengkajian Indonesia di Australia), nilai ''demokrasi'' di Indonesia diperdebatkan sejak 1919 di Taman Siswa. Sutanto Suryokusumo pada pertemuan Selasa Kliwon menolak gagasan demokrasi Barat. Dalam anggapannya, demokrasi Barat memprioritaskan ideologi daripada tindakan sosial.

''Dalam demokrasi Barat suara mayoritaslah yang menentukan apa yang benar, bukan ketentuan tentang kebaikan dan keadilan,'' katanya

Tahun 1920 Suryokusumo menggunakan bahasa dan contoh dari alam dan keluarga, sangat mirip dengan yang digunakan oleh Ki Hajar Dewantoro, untuk menolak keras hak dan kesetaraan politik.

''Orang-orang yang bijak hendaknya menjadi pemimpin negara dan harus dipilih oleh orang bijak, bukan oleh rakyat,'' katanya.

Di majalah Wedeer-Opbuow, sepanjang tahun 1917-1918 dia menulis:

Keindahan yang membatasi kekuasaan.
Kekuasaan yang memuja cinta kasih.
Kebijaksanaan yang membawa keadilan.

(M Djoko Yuwono)
Continue Reading | comments

Kemewahan Parlemen dan Dinamikanya


Kartun Martono

Kartun Hendri Mac Donal

Continue Reading | comments

LELUCON INTELIJEN KITA

Kartun Apat

ADA satu materi tawa yang cukup bagus: aparat intelijen dengan terbuka menyatakan program aksinya. Intelijen, begitu sebagian orang berpikir, haruslah mengikuti aturan hukum yang berlaku di negeri ini, seperti komponen bangsa lainnya. Celaka dua belas! Cara kerja intelijen di mana pun tidak pernah ada batas, tak pernah bisa didefinisikan dan sulit dijelaskan. Pekerjaan mereka untuk mencari informasi tidak akan mampu dibatasi batasan-batasan formal.

Sadap-menyadap secara hukum memang dilarang. Tetapi, bagaimana cara intelijen mendapatkan informasi untuk negaranya? Tentu salah satunya lewat penyadapan. Maka, jangan ribut kalau Amerika Serikat, Australia, menyadap negara sahabat apalagi “lawannya”. Kalau sampai ketahuan, tentunya kualitas sang penyadap yang layak diragukan. Celakanya, pers dalam negeri menekan Kepala BIN untuk mengatakan reaksinya. Sebagai pejabat yang telanjur jadi selebritas karena sering diekspos, tentu harus bicara, antara lain akan memanggil bagian intelijen kedutaan besar negara “tersangka”.

Hah? Bagian mana yang dimaksud? Sebab, semua kedubes di seluruh dunia tidak memiliki seksi intelijen. Kalaupun ada, agen intel yang disusupkan tentu tidak melalui organ resmi. Apa tidak lucu kalau seorang diplomat menyerahkan kartu nama dengan menyebut dirinya Kepala Seksi Intelijen, misalnya? Semua diplomat sebenarnya anggota intelijen, dalam arti mereka mengumpulkan data, informasi apa saja tentang negeri tempat mereka bertugas. Tentu saja informasi yang bernilai strategis, bisa didapat secara tertutup maupun terbuka. Yang tertutup dilakukan lewat agen lokal secara rahasia. Hampir 90% informasi dan data diperoleh lewat cara terbuka dengan membaca media massa lokal.

Oleh karena itu, kalau ada diplomat tertangkap karena kegiatan mata-matanya, maka dia dipersona-non-gratakan karena memiliki kekebalan diplomatik. Pun, masalah ini menjadi wewenang Kementerian Luar Negeri untuk menanganinya. Kalau ketahuan kegiatan intelijennya, maka Kemlu melayangkan surat protes, demikian seterusnya hingga bisa saja terjadi pemutusan hubungan diplomatik. Intelijen di sini hanya memasok informasi ke Kemlu.

Lebih lucu lagi disebutkan, entah apakah ini benar oleh institusi yang bersangkutan atau kesalahan tafsir wartawan, Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) akan “mengusut” penyadapan-penyadapan yang digegerkan itu. Orang tentu akan tertawa, sebab kewenangan lembaga ini sangat teknis sebagai pelaksana penyandian agar informasi yang dikirimkan tidak terbaca pihak lain. Decoding dan encoding. Sangat teknis sifatnya. Lha kok mau diungkap ke publik? Maka, makin lengkaplah kekonyolan di negeri ini. (M Djoko Yuwono)


Continue Reading | comments

KPK dan Petak Umpet Hambalang


Kartun Non-O



Kartun Non-O

Continue Reading | comments

KECERDASAN HUMOR PEMIMPIN


Kartun Apat

Oleh Ki Jenggung


DUNIA makin modern, maju, doktor kian banyak, apalagi sarjana S-1 dan S-2. Kini berbagai macam kecerdasan diperkenalkan ke publik. Dulu hanya dikenal intelligence quotient, lalu Universitas Harvard, AS, menemukan emotional quotient, dan lain-lain. Terakhir humoris kawakan Darminto M. Sudarmo “menemukan” apa yang disebut humour quotient yaitu kecerdasan humor. Orang ini tak mengada-ada. Dul Semprul setuju. Menurut dia, humor dapat menjadi kunci urai berbagai masalah sekaligus batu ukur kualitas paripurna manusia. Itu intinya. 

Mestinya, begitu menurut Dul Semprul, negeri ini juga semakin pandai mengelola rasa humor sehingga mengurangi radikalisme, terorisme, paranoia, kecengengan pemimpin. Tak ada humoris yang cengeng dan paranoid. Tapi, kemampuan ini tak bisa dipaksakan, harus melalui proses pembelajaran panjang, mendalam, dengan pelatihan intensif seumur hidup. Pemimpin cengeng jangan coba-coba berhumor, sebab hasilnya kering-kerontang, membosankan, dan membikin bibir mencibir. "Wagu," kata orang Jawa, artinya kaku dan canggung.

Di bidang diplomasi, rasa humor berperan untuk mematahkan “serangan”, tanpa harus membuat lawan sakit hati atau justru mengecapnya “bego”. Ketika seorang diplomat AS menyindir demokrasi di Uni Sovyet, dengan mengatakan rakyat AS bebas memaki-maki presiden mereka, Kruschev dengan santai mengatakan, “Rakyat Sovyet juga bebas memaki-maki Presiden AS!” Bayangkan, hanya dengan sepenggal “lelucon” ia berhasil membikin keok lawan.

Pekan ini seorang pemimpin yang sentimentil, perasa, sensitif, dan rada cengeng, curhat bagaimana hatinya “tertusuk” atas kritikan kepala negara lain yang menyebutkan bahwa jarak dari bandara ke pusat kota Jakarta yang tidak jauh memakan waktu dua jam. Ia curhat tentang bagaimana tertusuknya perasaannya, lantas melempar tanggung jawab itu kepada para gubernur dan walikota. Seorang gubernur kerempeng membuat “humor” dengan mengatakan tanggung jawab ada pada provinsi dan pemerintah pusat, sebab sejumlah objek masih dikendalikan pemerintah pusat plus “mobil murah”.

Kenapa harus makan hati sendiri, menyiksa diri sendiri, plus hadirin pada sebuah rapat dengan sikap yang kurang “elegan”? Bukankah lebih bagus kalau mengadakan “serangan balik” (serbal) kepada sang diplomat dengan menyebut, “Oh ya, tentu saja, pertumbuhan ekonomi kami nomor dua di Asia, rakyat kami semakin kaya sehingga mampu membeli mobil banyak. Waktu saya ke negeri Anda, jalan lancar karena mobil masih sedikit sekali.”

Pribadi yang bermasalah besar selalu menumbuhkan sifat kering-kerontang, kaku, jaga citra diri, dan sok suci, kerdil, penakut, sensitif, paranoid. Pribadi besar berani membuka dadanya, menantang, siap dikritik dan mengadakan serangan balik secara jitu tanpa harus melukai lawan. Sebab, kalau membikin sakit hati, itu namanya psikopatik. Cukup bergurau agar suasana mencair, leleh. Humor itu bukan dagelan murahan yang tidak lucu seperti di TV itu, melainkan satu olahan intelektualitas yang mengkristal menjadi formulasi yang menimbulkan gelak tawa, minimal senyum-senyum simpul.

“Humor itu serius,” kata biang humor Indonesia, Arwah Setiawan (almarhum). Hanya orang cerdas dan terbuka hatinya yang bisa melontarkan dan menerima humor secara baik dan utuh. Oleh karenanya, humor itu—seperti yang disebutkan tadi—adalah satu pembelajaran yang panjang, peluasan wawasan yang memadai untuk bisa mengapresiasinya. Jelas, lawak berbeda jauh dengan humor. Main kepruk di panggung yang (celakanya) menjadi bahan ketawaan publik, berbeda dengan sindiran diplomatik yang memerlukan referensi memadai.

Maka, hanya pemimpin yang berkepribadian tangguh saja yang dapat menerima “serangan” asing dan melawannya dengan humor lihai, tanpa harus melankolik, melo. Rakyat sebanyak 240 juta menginginkan pemimpin yang tangguh untuk menghadapi serangan lain yang akan lebih besar dan mengharapkan panglima perang yang tidak gampang keok hanya karena serangan perang urat syaraf tingkat rendah. Jangan sampai ada pemimpin negeri besar yang “ngibrit” ke luar kota ketika didemo buruh dan balik menyebut, “Kan sudah ada desentralisasi kenapa demo terus ke depan Istana? Tidak ke gubernur atau walikota?”

Duh Gusti, ampunilah rakyat negeri ini dan terutama pemimpinnya!



Continue Reading | comments

MK-ku Sayang MK-ku Malang


Kartun Non-O


Kartun Non-O

Continue Reading | comments

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger