<div style='background-color: none transparent;'></div>
Home » » Manusia Sang Boga Sampir

Manusia Sang Boga Sampir


Saya ingin lanjutkan pemikiran (wewarah) teman milis saya, Agus Sulistiyo, tentang pola kemimpinan yang ideal di Indonesia yang disimbolkan melalui sosok Semar. Semua pihak diajak untuk kembali kepada jatidiri kodratnya masing-masing sebagai manusia sejati. Dengan pesan sederhana Semar;
"Aja Dumeh!" (Jangan mentang-mentang) Dumeh kuwasa, dumeh wibawa, dumeh menang, dumeh bisa, dumeh ana, dumeh pinter, dumeh bagus, dumeh ayu, dumeh enom, dumeh gagah, dumeh sugih. (Seluruh kelebihan semua ada di situ.)
Semua bentuk sifat itu lebih banyak dimiliki para pemimpin yang kenyataannya memang selalu didudukkan lebih oleh para pengikutnya.
Melalui pesan sederhananya, "aja dumeh", Semar membangun keseimbangan Alam dalam menjalankan darmanya sebagai "pamomonge Tanah Jawa. "
"Tanah Jawa" di sini diartikan sebagai bentuk kehidupan jiwa di alam dunia.
Ujaran Semar yang terkenal: "Hooy mblegegeg ugek ugek sadulito hmel..hmel..." (Sadarlah manusia, sebesar apa pun dirimu sekarang, ingatlah kamu semua berasal dari satu titik mani yang menggumpal bersama alam).
'Hakikat pemimpin yang baik adalah pengikut yang baik."
Sri Krisna disebut 'manungsa pengawak dewa' = hamba yang menjadi pemimpin. Tampil dengan segenap kebesaran, keagungannya.
Adapun Semar disebut 'dewa pengawak manungsa' = pemimpin yang menjadi hamba. Tampil dengan segenap kesederhanaannya.
Dengan kata lain, Semar adalah simbol evolusi kesadaran paripurna kepemimpinan manusia yang membumi, sederhana dan apa adanya.
Ia menguasai tali rasa dan rasa tali; penghubung dan penyatuan kesadarannya sebagai pribadi maupun kolektif bersama makhluk seluruh Alam Semesta.
Idealisasi terhadap sosok Semar tersebut menjadikan di tanah Jawa ini dipercaya banyak makam atau (nama desa) Padepokan Semar.
Sebenarnya itu bukan makam atau padepokan dari satu sosok manusia saja. Melainkan adalah makam manusia-manusia yang sudah sampai pada "kesadaran Semar" dalam dirinya sebagai pemimpin.
Semar : "wadine sinamar sajroning kalumrahan." (Ardus M Sawega)

Tanggapan:
Semar adalah putra Batara Wungkuam.Semar penjelmaan Sanghyang Ismaya.
Semar punya sifat dan watak sabar, longgar, momong (mengasuh), bicaranya mengandung fatwa nasehat kebaikan.
Semar dikenal sebagai manusia Boga Sampir. Berbadan gemuk pendek, rambutnya kuncung, mata rembes, hidung kecil, bibir cabik.
Semar menikahi Dewi Kanastren - putri Batara Hiya, keturunab Sanghyang Caturwarna, putra Sanghyang Caturkanwaka
Sepanjang hidupnya Semar selalu menjadi pamong/paranpara trah keturunan Witaradya. Dalam sehari-hari berlaku sebagai panakawan biasa. Dalam hal tertentu tidak segan untuk bertindak untuk membenarkan hal-hal yang benar yang terjadi di Ngarcapada.
Sebagai penjelmaan Sanghyang Ismaya, Semar memiliki kebebasan dan keleluasaan untuk datang ke Kahyangan Jonggring Saloka bertemu Sanghyang Manikmaya; untuk menemui Sanghyang Tunggal di Kahyangan Alangalang Kumitir.
Semar berumur panjang. Hidup dari zaman Ramayana, Mahabarata sampai zaman Parikesit. Bahkan pada wayang madya di zaman Sri Jayabaya, raja Mamenang, Semar masih dikisahkan.
(Bambang Pur)
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger