<div style='background-color: none transparent;'></div>
Home » » Jumat yang Menyebalkan bagi Ahok

Jumat yang Menyebalkan bagi Ahok

Balya Nur

Oleh Balya Nur

HARI Senin adalah hari yang paling banyak dibenci oleh para pekerja. Salah satu alasannya, hari Minggu ke Senin cuma berjarak satu hari, sedangkan Senin ke Minggu berjarak enam hari. Hari Sabtu adalah hari yang dibenci oleh orang yang baru putus cinta. Beribu kenangan manis mengejeknya. Hari Jumat adalah hari yang paling ditakuti oleh tersangka koruptor. Pintu penjara KPK siap melahap tersangka koruptor pada hari "Jumat Keramat" itu.

Bagi Ahok, hari Jumat adalah hari yang paling menyebalkan. Ketika dia ikut memaraf Instruksi Gubernur nomor seratus lima puluh tentang larangan penggunaan kendaraan pribadi ke kantor setiap hari Jumat pekan pertama tiap bulan bagi PNS di lingkungan Pemprov DKI, mungkin terjadi perang batin dalam dirinya. Tapi, hatinya agak tenang. PNS? Hmmmm ... dia bukan PNS.

Jumat yang menyebalkan itu pun datang sesuai jadwal. Mobil dinas Toyota Land Cruiser B 1966 RFR melaju anggun di tengah kota. Tapi, tidak bagi pengendaranya. Walaupun mobil itu cukup nyaman, Ahok tampak gelisah. Dia membayangkan, wartawan telah siap mengokang mikrofon yang akan memberondongnya dengan pertanyaan seragam.

“Kok Bapak masih pake mobil dinas? Bukankah ini Jumat pertama? Pak Jokowi datang mengendarai sepeda. Bapak tahu itu?“

Walapun dalam mobil itu cukup dingin, Ahok tampak seperti kegerahan. Dia melihat serombongan pegawai dengan seragam khas Betawi berjubel dalam bus kota. Beberapa bawahannya itu nampak menoleh heran ke arahnya. Mereka seolah mengadilinya. Baru kali ini dia merasa diadili oleh anak buahnya. Ahok membatin, “Hei, kamu berangkat pagi, pulang sore. Saya pulang sampai malam bahkan larut malam. Kamu mau kerja seperti saya? Kalau mau, oke. Saya akan ikut gelantungan dalam bus itu.”

Sebuah pertanyaan terngiang di telinganya, “Bapak ikut menandatangani ingub?" Pertanyaan ini segara dijawabnya. Sejak tadi dia memang sudah menyiapkan beberapa jawaban. “Instruksi hanya bagi PNS, bukan bagi gubernur dan wakil gubernur.”

“Tapi, Pak Jokowi naik sepeda?“

"Iya. Dia kan dekat rumahnya. Coba deh, memangnya kamu mau naik sepeda dari Pluit ke balaikota? Harus dikawal pula. Repot, kan? Belum lagi soal efisiensi waktu.”

Rancangan dan pertanyaan dan jawaban itu buyar. Mobil Land Cruiser memasuki balaikota. Wajah para wartawan seperti melihat mobil yang baru datang dari luar angkasa. Lalu wajah-wajah itu berubah seperti singa lapar. Berita wagub naik mobil dinas hari Jumat ini seperti makanan yang lezat dan bergizi. Dengan tenang Ahok menjawab semua pertanyaan seperti yang tadi telah dirancangnya. Pertanyaan yang mudah dijawab. Wartawan sekarang banyak anak-anak baru yang pertanyaannya mudah ditebak.

Ahok duduk sambil menghela napas panjang di ruang kerjanya. Baru Jumat pertama. Dia juga tahu rencana gubernur yang akan menerapkan pada setiap Jumat dan bahkan setiap hari. Jumat yang menyebalkan. Tapi, Ahok lebih sebal lagi pada segala bentuk pencitraan. Pencitraan pejabat seperti mahasiswa yang dipelonco. Demi pencitraan, pejabat memelonco dirinya sendiri, membuat susah dirinya sendiri. Buat apa ada mobil dinas? Supaya kerja lebih efesien, kan? Kenapa malah memilih membuang waktu di jalan? Waktu yang bisa lebih produktif tercecer di jalan! Ahok kembali menghela napas panjang.

Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi

Buku Satir Sosial Politik - Humor Dosis Tinggi
Untuk informasi pemesanan silakan klik gambar cover tsb.
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger